/
Selasa, 21 Maret 2023 | 10:25 WIB
Simak Perbedaan Hisab dan Rukyat, Dua Metode untuk Tentukan Awal Ramadhan (Freepik/nkitabuida)

Suara Denpasar – Sebagian orang Islam di Indonesia masih menunggu kapan puasa dimulai melalui sidang isbat. Meskipun, muhammadiyah sendiri sudah menentukan awal puasa tanggal 23 Maret 2023. Lalu, mengapa ada perbedaan penentuan awal puasa? Berikut penjelasannya.

Perbedaan dalam penentuan puasa terjadi karena perbedaan cara perhitungan. Ada dua metode penentuan awal puasa, yaitu Rukyat dan Hisab. Lalu, apa perbedaannya? Melansir dari suara.com, berikut penjelasannya.

Hisab

Dilansir dari suara.com, Hisab adalah perhitungan secara astronomis dalam menentukan posisi bulan sebagai tanda dimulainya awal bulan pada kalender Hijriah metode ini didasarkan pada perhitungan yang dilakukan jauh hari sebelum masuk bulan Ramadhan agar bisa menentukan kapan 1 Ramadhan dimulai.

Di Indonesia terdapat rujukan kitab yang menggunakan metode kontemporer untuk menentukan awal bulan dalam kalender hijriah. Caranya, dengan menggunakan rumus untuk menghitung  awal bulan dengan data astronomis. Metode inilah yang digunakan Muhammadiyah dalam menentukan awal Ramadhan sehingga dapat menentukan awal puasa lebih dahulu.

Dasar penentuan kapan bulan baru dalam penanggalan qamariah dimulai, termasuk 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijah menggunakan Hisab hakiki wujudul hilal.

Rukyat

Metode Rukyat dilakukan dengan mengamati bulan secara langsung dengan menggunakan teropong. Aktivitas ini digunakan oleh pemerintah untuk menentukan awal Ramadhan.

Rukyat berfokus pada visibilitas hilal atau bulan sabit muda saat matahari terbenam sebagai pergantian kalender Hijriah. Untuk itu, Kementerian Agama akan memantau ratusan titik di seluruh Indonesia untuk menentukan awal Ramadhan.

Baca Juga: Marhaban Ya Ramadhan, Ini 25 Ucapan Sambut Ramadan yang Bisa Dibagikan pada Keluarga

Demikian, informasi mengenai perbedaan dua metode penentuan awal puasa. Terlepas dari kapan puasa akan dimulai, yang terpenting adalah niat ibadah di bulan Ramadhan. Jangan sampai keimanan kendur, apalagi hanya sebagai alasan balas dendam setelah menahan lapar dan haus seharian. (*/Dinda)

Load More