- Sebanyak 40 siswa di Jakarta kehilangan Kartu Jakarta Pintar karena terlibat tawuran sejak tahun 2025 hingga kini.
- Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, menyatakan siswa yang dikeluarkan tetap harus melanjutkan pendidikan formal atau non-formal.
- Disdik DKI Jakarta mengupayakan sinergi keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mencegah siswa kembali terjerumus dalam aksi tawuran.
Suara.com - Sebanyak 40 siswa di Jakarta kehilangan Kartu Jakarta Pintar (KJP) karena terlibat tawuran sejak tahun 2025 hingga kini.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) DKI Jakarta saat ditemui awak media di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (25/5/2026).
Nahdiana menegaskan, meski para siswa itu sudah dikeluarkan dari sekolah, Dinas Pendidikan tidak lepas tangan dalam memastikan keberlangsungan pendidikan mereka.
“Sudah dikeluarkan. Tapi, semangat kami bukan pada punishment, semangat kami pada pembelajaran,” ungkapnya.
Ia menyebut, anak-anak yang terlibat tawuran tetap akan diarahkan untuk melanjutkan pendidikan, baik di sekolah formal maupun non-formal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Pendidikan itu kan core value-nya mendidik ya, supaya dia lebih baik. Sehingga kami mengkomunikasikan, anak ini sekolah apakah nanti sekolahnya di non-formal. Tapi yang jelas, anak ini tidak boleh putus sekolah,” papar Nahdiana.
Nahdiana juga menjelaskan, proses pengenaan sanksi tidak serta-merta dilakukan tanpa mempertimbangkan kadar keterlibatan siswa dalam tawuran.
“Ya kalau secara prosedur kan dia berhak untuk dibina dulu kan, dan tawuran itu kan ada yang memang kategorinya, dia nggak sengaja lalu ikut, dia ikut-ikutan dengan sadar, atau dia memang menginisiasi dan lain-lain. Itu kan nanti akan ada proses-prosesnya,” terangnya.
Disdik DKI pun tengah berupaya mengembalikan anak-anak yang saat ini masih berada di luar sistem sekolah, sebagai bagian dari program yang digadang-gadang menjadi kado ulang tahun Jakarta.
Baca Juga: Banjir Rendam 26 RT di Jakarta Timur, Kampung Melayu Paling Parah
Nahdiana menyebut, penanganan masalah tawuran tidak bisa hanya bertumpu pada sekolah, melainkan membutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat agar anak tidak punya celah untuk terjerumus.
“Nah kalau ini kami orkestrasi dengan baik, maka anak-anak kita itu tidak punya ruang kosong atau ruang hampa,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Didampingi Haris Azhar, Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika Diperiksa Kejagung Soal Skandal Migor
-
Kucurkan Rp100,1 Triliun untuk Rehab-Rekon Sumatera Pasca Bencana, Mendagri: Target Rampung 2028
-
Mafia Proyek Dapur MBG Gentayangan di Jabar, Duit Rp1,9 Miliar Melayang
-
Gagal Massal di SNBT 2026: 600 Ribu Peserta Gugur, UI dan UNS Masih Tak Terkalahkan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Mencetak 3 Presiden dan 3 Wapres, Rahasia di Balik Museum Seskoad yang Diresmikan Prabowo
-
Kasus Penipuan Dapur MBG Makin Banyak! Modus Catut Pejabat hingga Jual Titik SPPG
-
Jemaat Dibubarkan Saat Ibadah, Bantul Telusuri Legalitas Gedung Sewa Gereja Misi Sejahtera
-
Cuma Jeda 24 Menit! Dua KRL Rangkasbitung Diteror Pelemparan Batu, Pelaku Masih Misterius
-
Guru dan Kaposyandu Kini Jadi 'Mata-mata' BGN, Pantau Langsung Kualitas MBG