Suara Denpasar - Para pecinta terumbu karang (coral) melakukan gerakan peduli terumbu karang atau yang mereka beri nama Coraline save the Coral. Gerakan ini dipicu oleh efek buruk perubahan iklim yang merusak keseimbangan ekosistem laut yang rapuh.
Ketua Umum Coral Karang Ikan Hias Indonesia, Dirga Adiputra Singkaru mengatakan gerakan save the Coral untuk membangun kesadaran masyarakat tentang ekosistem terumbu karang yang kian terancam.
"Ini merupakan gerakan membangun kesadaran publik terkhusus kita fokus di Bali karena pada tahun 2016 itu sempat terjadi Coral bleaching (pemutihan karang) itu Bali juga terdampak," ujar Dirga kepada Suara Denpasar di The Slow, Sabtu (13/5/2023).
Dirga menjelaskan, apabila terjadi pemutihan karang maka terumbu karang tersebut akan mati. Sehingga perlunya gerakan pengembangbiakan terumbu karang agar keindahan bawah laut Indonesia tetap terjaga.
Coral bleaching, kata Dirga, disebabkan oleh ocean warming atau kenaikan suhu laut yang mencapai 2 derajat celcius serta maraknya sampah plastik dan sampah rumah tangga.
Ada juga karena kontak langsung para penyelam yang tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan terumbu karang. Selain itu aktivitas mancing yang tidak ramah lingkungan yang menggunakan bom sehingga terjadinya kerusakan parah terhadap terumbu karang.
"Efek dari aktivitas-aktivitas itu ekosistem terumbu karang kita hancur dan berpotensi punah. Jadi kita ajak masyarakat untuk menyelamatkan terumbu karang yang kita punya saat ini dan kita akan merayakan Coral Triangle Day 2023 bersama-sama dalam acara pertama kita di bulan Juni nanti dan kita akan membuat terumbu karang tersenyum," ujar Dirga.
Menurut Dirga, Bali telah dipilih sebagai lokasi ideal untuk memulai gerakan konservasi terumbu karang karena beberapa alasan.
Pertama, Bali adalah rumah bagi berbagai terumbu karang yang perlu dilindungi. Terumbu karang ini tidak hanya indah, tetapi juga penting untuk kelangsungan hidup banyak spesies laut dan bahkan planet kita secara keseluruhan.
Baca Juga: Viral Wanita Kegirangan Dapat Akta Cerai dan Jadi Janda Muda: Terima Kasih, Ya Allah, OTW Salon!
Kedua, kelas Dirga, Bali memiliki industri pariwisata yang berkembang pesat dan sangat bergantung pada kesehatan atraksi alamnya, termasuk terumbu karangnya. Karena itu, ada insentif ekonomi yang kuat bagi masyarakat Bali untuk merangkul upaya konservasi.
Selain itu, Bali adalah pusat inisiatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, sehingga menjadi lokasi yang ideal untuk meluncurkan gerakan berfokus lingkungan. Dengan memulai gerakan ini di Bali, kita berpotensi menciptakan efek domino perubahan yang akan menyebar ke seluruh wilayah dan bahkan ke seluruh dunia.
"Coraline Saves the Coral akan mengadakan acara yang akan melibatkan komunitas lokal untuk menyebarkan kesadaran tentang konservasi terumbu karang. Akan ada banyak kegiatan seperti pemetaan visual tema terumbu karang, pertunjukan live set, DJ, screen printing berkelanjutan, peluncuran zine, pameran tanaman, dan masih banyak lagi," kata Dirga.
"Coral Triangle adalah wilayah laut di Asia Tenggara, tempat terumbu karang membentang di perairan Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon. Wilayah ini adalah rumah bagi banyak sekali kehidupan laut yang cantik, seperti lebih dari 2.000 spesies ikan terumbu dan 600 spesies karang," sambungnya.
Untuk diketahui, acara Coraline save the Coral itu diselenggarakan dan didukung oleh AquaNest Experience, The Slow, dan Kura Kura Beer.
"Jadi, mari kita merayakan Coral Triangle Day 2023 bersama-sama, menjelajahi pengalaman bawah air, dan membuat terumbu karang tersenyum," tandas Dirga.(Rizal/*)
Berita Terkait
-
Bunuh Warga Jakarta di Denpasar, Dua WNA India Diringkus di Bandara
-
Peninggalan Kerajaan Bali Lengkap dengan Sejarah Singkat Berdirinya
-
Pelaku Kuras Harta Korban Pembunuhan, Ternyata Baru Kenal Tiga Hari di Kuta
-
Tukad Bilok Denpasar Berdarah, Satu Warga Jakarta Tewas Dikeroyok
-
Bikin Bunting ABG, Komnas PA Desak Polisi Penjarakan Oknum Tokoh Mayarakat Suami dari Anggota DPRD
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Geser Fokus dari Cibinong, Pemkab Bogor Kini 'Keroyok' Penataan Kawasan Parung
-
5 Fakta Mencengangkan di Balik Penetapan Tersangka Ustaz Syekh Ahmad Al Misry
-
Perang AS - Iran Bikin Eropa Boncos, Biaya Impor Bahan Bakar Bengkak Rp 505 Triliun
-
Hoaks Teror Pocong Keliling Minta Dibukakan Tali di Depok, Polisi Turun Tangan
-
Luas Karhutla 2026 Sudah Capai 52 Ribu Hektare, Riau Salah Satu Terbesar
-
Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026
-
Bukan Sekadar Daur Ulang, BluntSheep Ubah 'Cinderella' Jadi Lagu Pop Rock yang Lebih Enerjik!
-
Rombongan Pertama Calon Haji asal Pekanbaru Berangkat ke Tanah Suci
-
Terinspirasi Candi Borobudur, Artotel Leguna 'Bayi Cantik' di Kota Magelang
-
Halalbihalal Tokoh Sumbagsel: Mendagri Tito Ajak Rumuskan Program Nyata 2027-2029