Suara Denpasar - Ratusan Mahasiswa berkumpul di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Universitas Udayana (Unud) Bali dalam rangka memperingati 25 tahun Reformasi, Minggu Senin (21/5/2023).
Ratusan mahasiswa itu berkumpul untuk membahas dan merefleksi dalam sebuah tema "Beranda Mahasiswa Refleksi 25 Tahun Reformasi: Bebas eh Bablas!"
"Kami menolak lupa, kami menolak lupa atas kekejaman rezim 98. Kami menolak lupa dan kami tau siapa pelakunya," teriak mereka.
"Bila kita menilik serta mengingat-ngingat lagi pada agenda-agenda reformasi yang digaungkan di tahun 1998, maka harus jujur diakui bahwa tidak satu pun agenda itu dilaksanakan secara konsisten oleh rezim-rezim orde reformasi," kata yang lainnya dalam orasi.
Proses demokratisasi di Indonesia 25 tahun pasca tumbangnya rezim otoriter Orde Baru, masih terus mengalami ujian, hambatan dan bahkan surut. Demokrasi Indonesia kini terasa semakin mundur dengan munculnya kekuatan Neo Liberalisme, bangkitnya Militerisme, serta kekuatan Fundamentalisme Agama.
Orde Baru tidak benar-benar direformasi. Tetapi memperbaharui diri menjadi Orde Paling Baru.
Agenda reformasi yang seharusnya mengadili Soeharto dan kroni-kroninya semakin jauh dari harapan. Bahkan desakan untuk menjadikan Soeharto pemimpin bertangan besi itu sebagai pahlawan nasional, masih terus terdengar. Meskipun terbukti bersalah dalam kasus korupsi Yayasan Supersemar. Dan kejahatan kemanusiaan.
Sementara kasus korupsi keluarga cendana dan kroninya serta kasus pelanggaran HAM masa lalu masih banyak yang tak kunjung mendapat penyelesaian yang berkeadilan. Bahkan dipaksa untuk dilupakan.
Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme sebagai salah satu agenda penting reformasipun kini berjalan di tempat. Khususnya dalam pemberantasan korupsi. Dibagian ini memang layak disebut sebagi orde paling baru. Sebab korupsi saat semakin menjadi-jadi, berkembang biak seperti parasit.
Baca Juga: PSSI Tugaskan Indra Sjafri Tangani Timnas di ASIAN Games 2023, Media Vietnam Justru Sebut Bimbang
Beranda Mahasiswa Refleksi 25 Tahun Reformasi: Bebas eh Bablas itu menghadirkan saksi hidup yakni Aktivis 98 Jatmiko Wiwowo.
Jatmiko Wiwoho berkisah, bahwa represifitas yang dialami kalangan aktivis pada tahun 1998 sungguh sangat nyata. Akan tetapi karena gelombang protes yang besar serta ketidaktakutan terhadap moncong senjata, Soeharto berhasil dilengserkan.
"Waktu itu jam-jam begini, sekitar pukul 5 sore seperti ini, tetangga kos saya tiba-tiba teriak Soeharto lengser, Soeharto lengser. Perasaan saya waktu itu sangat ambigu antara takjub, menang, ketakutan.
Takjub karena kami berhasil melengserkan rezim yang memiliki kekuatan dan punya segalanya. Perasaan menang atas perlawanan itu pasti, hanya saja ada perasaan ketakutan. Karena apabila Soeharto dan kroni-kroninya sudah lengser berarti negara harus segera diambil alih agar tidak terjadi kekosongan, ternyata yang lengser cuma Soeharto," imbuh Jatmiko.
Sebagai aktivis 98, Jatmiko membagikan strategi aksi kepada para mahasiswa dan aktivis-aktivis yang berkumpul di sana. Menurutnya aksi harus direncanakan dan disetting secara detail. Masa aksi pun harus dibagikan ke dalam tugas-tugas.
"Ada 3 pilar utama dalam aksi, yaitu peratama kelompok diskusi, Kelompok aksi, dan pers mahasiswa. Harus dibagi tugas-tugasnya siapa yang paling depan, dan siapa yang harus menciptakan kondisi," sambungnya.
Beberapa tema utama yang dibahas dalam forum diskusi Beranda Mahasiswa Refleksi 25 Tahun Reformasi: Bebas eh Bablas itu meliputi:
1. Meningkatkan Pengalaman dari Cerita Reformasi: Menjelajahi cara-cara untuk memperkuat proses demokrasi, mempromosikan transparansi, dan memastikan akuntabilitas dalam masyarakat.
2. Keadilan Sosial dan Kesetaraan: Mempelajari strategi untuk mengatasi kesenjangan sosial, mempromosikan kesempatan yang setara, dan mendorong inklusivitas bagi semua masyarakat.
3. Hak Asasi Manusia dan Supremasi Hukum: Menyoroti pentingnya perlindungan hak asasi manusia, menjunjung tinggi supremasi hukum, dan mempromosikan masyarakat yang adil dan berkeadilan.
4. Politik Identitas: Menyampaikan hal-hal negatif mengenai politik identitas demi mempersatukan persepsi persatuan dalam kewarganegaraan, sehingga individu mampu menyeleksi politik-politik sehat dalam dunia sosial.
Para mahasiswa itu berharap agar pemerintah segera menyelamatkan demokrasi dari ancaman militerisme dan neoliberalisme. Serta menuntut kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu segera diungkap dan tolak keterlibatan TNI dalam kegiatan sosial politik rakyat. Dan kemudian bangun kekuatan politik alternatif untuk Indonesia yang berkeadilan.
Disclaimer: Kegiatan "Beranda Mahasiswa Refleksi 25 Tahun Reformasi Bebas eh Bablas" itu menghadirkan Jatmiko Wiwoho, Efatha Filomeno Borromeu Duarte dan Bima Kumara Dwi Atmaja sebagai pemantik diskusi. (Rizal/*)
Berita Terkait
-
Demi Judi Sabung Ayam, Made Kanta Nekat Menjambret Kalung Emas Milik WNA di Kuta Bali
-
Ras Muhamad Rilis Video Klip Fenomenal di Bali: Forever Holiday Forever Summer
-
Cari Liburan Romantis Bareng Pacar? Taman Kupu-kupu Bali di Tabanan Bisa Jadi Tempatnya
-
WALHI Bali Protes ANDAL Sistem Penyediaan Air Baku Embung Tukad Unda Klungkung
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan
-
22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing
-
Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
Prabowo Tak Main-Main! Bidik 4 Korporasi di Balik Karhutla Kalimantan, Izin Bakal Dicabut
-
Aktivis Pati Kembali ke Jakarta, Siapkan Massa untuk Aksi 27 Agustus di DPR RI