Suara Denpasar - Desakan agar Pejabat (PJ) Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya untuk menghidupkan kembali SMA/SMK Bali Mandara seperti semula terus bergulir.
Sebab, dengan perubahan status sebagai sekolah reguler, roh sekolah eksklusif bagi siswa dengan background kurang mampu atau miskin itu hilang.
Soal pembiayaan? Beberapa pihak menilai ada alokasi dana yang dinilai kurang bemanfaat di APBD Perubahan Pemprov Bali.
Di antaranya dana hibah DPRD sebesar Rp 55 miliar dan publikasi pimpinan Rp 14 miliar pada APBD perubahan.
Jika dana itu dialokasikan untuk mengembalikan SMA/SMK Bali Mandara, tentu manfaatnya lebih besar. Apalagi, untuk diketahui lulusan SMA/SMK Bali Mandara yang berjumlah 1.300 orang memiliki daya saing tinggi.
Lebih dari separo atau 70 persennya berkarir atau sekolah di luar Bali (kedinasan) dengan beragam beasiswa yang mereka dapatkan.
Tentu ini sesuai dengan tujuan awal bahwa sekolah bagi siswa miskin itu diharapkan bisa mencetak generasi yang bisa membawa mereka ke luar dari jurang kemiskinan.
Sementara itu di tengah kembali maraknya desakan agar SMA/SMK Bali Mandara dihidupkan kembali.
Penggagas sekolah tersebut yang juga mantan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika mengaku sulit terwujud.
Baca Juga: Amankan Pemilu Serentak, Polda Bali Siapkan 8 Ribu Personil
Apalagi, bicara soal kewenangan dan masa jabatan Pejabat Gubernur Bali yang hanya setahun. Tentu, anggaran untuk kembali menormalkan sekolah itu sulit dilakukan.
Demikian, di luar polemik yang berkembang. Pastika menjelaskan bahwa biaya operasional sekolah tersebut tidak besar. Dengan pola layanan pendidikan yang digunakan yakni dengan sistem asrama.
Memang, seluruh keperluan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar hingga kebutuhan hidup selama menempuh pendidikan di Bali Mandara sudah ditanggung dan dibiayai oleh pemerintah, mulai dari biaya makan, pakaian, hingga kebutuhan lainnya. Hanya saja, untuk semua keperluan itu yang mengerjakan dan membuat adalah para siswa.
Hitung-hitungan kasar untuk operasional seluruhnya per tahun hanya dibutukan dana Rp 4 miliar.
"Makannya tidak mahal, mereka (siswa) masak sendiri. Di Bali Mandara ini tidak ada tukang kebun, tukang masak, tukang cuci. Jadi mereka membuat sendiri," terangnya.
Anggaran besar hanya dibutukan ketika awal sekolah itu berdiri karena perlu perbaikan bangunan yang sudah lama terbengkalai dan rusak pada 2011.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Stylish buat Traveling, Intip 4 Ide OOTD Warna Hitam ala Kazuha LE SSERAFIM
-
Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
-
Analisa Kekuatan Penuh Didier Deschamps Hadapi Irak, Norwegia, dan Senegal, Welcome Back Manu Kone
-
Tangis Keluarga Pecah, 11 Korban Bus ALS Akhirnya Teridentifikasi Melalui DNA
-
Perbedaan Mencolok Film Joker dan Sekuelnya, Keduanya Lagi Tayang di Netflix
-
Tayang 2027, Anime GATE 2 Rilis Key Visual Baru dan Proyek Lagu Penutup
-
Nasib Santri Ponpes Pati Usai Geger Kasus Pelecehan, Sekolah Tetap Lanjut atau Pindah?
-
Serbu Promo Superindo Weekend, Ada Beli 1 Gratis 1 Minyak Goreng sampai Produk Bayi
-
Pembuang Sampah di Palembang Bisa Disuruh Bersihkan Masjid, Efektif Bikin Jera?
-
Prediksi Starting XI Jerman di Piala Dunia 2026: Kreatif Tanpa Striker Murni