Suara Denpasar- Imbas musim kemarau yang telah melanda Pulau Dewata beberapa waktu belakang dikhawatirkan memberi dampak kerugian bagi petani Bali.
Namun, kekhawatiran itu ditepis oleh Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Gede Sedana yang mengabarkan petani di Pulau Bali tak mengalami kerugian signifikan sepanjang musim kemarau ini.
Hal tersebut karena petani di Pulau Bali mengantisipasi kemarau panjang ini dengan menanam komoditas lain selain padi.
Dilansir dari antara, Gede Sedana berkata, di beberapa subak petani-petani menanam bunga, sayuran, dan holtikultura sebagai pengganti padi.
Seperti petani yang berada di Kabupaten Tabanan, banyak dari mereka menanam tanaman berumur pendek, seperti kacang, pokcoy, bayam cabut yang umurnya 3 minggu, serta kangkung yang setiap hari dapat dipanen.
Ia juga mengakui di musim kemarau panjang ketersediaan air menjadi masalah yang menyulitkan petani, sebab berkurangnya ketersediaan air akan menyebabkan intensitas tanam menurun sehingga lahan untuk menanam padi terbatas.
Menurut Gede Sedana hal itu lah yang menyebabkan kerugian petani di Pulau Bali, karena tidak dapat memanfaatkan 100 persen lahannya untuk menanam padi.
Namun lagi, hal tersebut tak terlalu membawa pengaruh yang signifikan lantaran pemasukan petani tetap dapat berjalan karena respons cepat mereka dengan menanam komoditas lain yang mudah panen dan tidak memerlukan banyak air, sehingga tiap 3-5 minggu mereka bisa memperoleh hasil.
Gede Sedana menambahkan, para petani sudah mencoba untuk melakukan diversifikasi tanaman, mereka tetap menanam padi tetapi tidak di seluruh areanya.
Baca Juga: Kena Sanksi Komdis PSSI, Anak Legenda Persebaya Surabaya Angkat Bicara Beri Pembelaan
Selain itu, petani juga dikatakan dapat menaikkan harga gabahnya, namun ketika gabah menjadi beras dan masuk ke pasar, petani juga harus membeli dengan harga tinggi.
Kondisi musim kemarau justru lebih baik untuk para petani, dibanding musim hujan karena risiko gagal panen akan lebih tinggi, bahkan diprediksi 10-15 persen dari petani padi mengalami gagal panen.
Hal tersebut karena pada musim hujan, ada kemungkinan terjadinya kerusakan jaringan irigasi, pada momen seperti ini petani bukan hanya menanam tanaman, namun harus dibarengi juga dengan memperbaiki saluran air.
Selain itu, musim hujan juga dapat menyebabkan sawah kekurangan sinar matahari, banjir yang menyebabkan gagal panen, ditambah angin kencang yang berpotensi merobohkan tanaman, sehingga produksinya tidak maksimal.
Oleh karena itu, risiko gagal panen petani di musim hujan jauh lebih besar dibandingkan musim kemarau. Hal tersebut karena pada saat musim kemarau petani sudah bisa memperhitungkan kurangnya ketersediaan air sehingga mereka tidak menanam padi.(Rizal/*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Kesaksian Horor Google Maps Bongkar Sisi Gelap Daycare Little Aresha, Orang Tua Langsung Speak Up
-
Respons PBB Usai Prajurit TNI Praka Rico Pramudia Gugur di Lebanon, Desak Israel Hentikan Serangan
-
Menjual Harapan ke Tanah Suci: Nestapa Pasangan Lansia Lumajang Terjerat Muslihat Haji Jalur Cepat
-
Fitur QRIS di Kartu Kredit Resmi Hadir! Honest Card Ubah Cara Bayar Harian Jadi Lebih Fleksibel
-
UU PPRT Resmi Disahkan, Migrant Watch Peringatkan Risiko Eksploitasi Jika Tanpa Upah Minimum
-
Di Balik Sekolah yang Katanya Gratis, Ada Harga yang Tak Pernah Terlihat
-
7 RW di Kemayoran Ogah Ikut Musrenbang, Rano Karno Ungkap Biang Masalah 35 Tahun
-
31.000 Rumah Terdampak Bencana Terima Dana Stimulan Perbaikan Hunian
-
Teka-teki Wali Nikah Syifa Hadju, Ayah Kandung Hadir atau Pakai Wali Hakim?
-
Sedang Kehilangan Arah? Novel 'Rumah' Karya J.S. Khairen Akan Menemanimu