- Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam mengkritik kenaikan harga BBM nonsubsidi yang diumumkan pemerintah secara mendadak pada Rabu.
- Kenaikan drastis harga Pertamax dan Pertamax Green 95 dinilai dilakukan tanpa sosialisasi serta melibatkan diskusi bersama DPR RI.
- Pemerintah didesak menjaga stabilitas harga karena kebijakan tersebut berdampak luas terhadap daya beli dan beban ekonomi rakyat.
Suara.com - Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, memberikan kritik tajam terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 yang diumumkan secara mendadak.
Di tengah keriuhan kenaikan harga tersebut, Mufti secara khusus menyoroti fenomena viralnya lagu "MBG (Mas Bahlil Ganteng) My Little Bolu Ketan" di media sosial.
Menurutnya, pemerintah jangan sampai salah mengartikan kreativitas rakyat tersebut sebagai tanda bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang baik-baik saja.
"Belakangan kita melihat ekspresi publik di media sosial dengan viralnya My Little Bolu Ketan MBG. Saya justru melihat itu bukan semata-mata pujian," ujar Mufti kepada Suara.com, Rabu (10/6/2026).
Itu adalah cara rakyat menyampaikan harapan secara baik-baik kepada pemerintah.
Ia menambahkan bahwa ada pesan tersirat di balik lagu tersebut.
"Ada pesan yang ingin disampaikan bahwa rakyat ingin pemerintah hadir, bekerja lebih keras, dan menjaga agar harga-harga kebutuhan masyarakat tetap terkendali. Jangan sampai ekspresi positif itu disalahartikan. Di balik candaan itu, ada harapan besar agar pemerintah serius menjaga stabilitas harga," tegasnya.
Kenaikan harga BBM kali ini tergolong drastis. Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Mufti menyayangkan pola pengambilan kebijakan yang dinilai tidak transparan dan minim sosialisasi. Bahkan, Komisi VI DPR RI sebagai mitra kerja pemerintah mengaku tidak diajak berdiskusi sebelum keputusan ini diketuk.
Baca Juga: Kenaikan BBM Tuai Kritik, DPR Mengaku Tak Pernah Diajak Berdiskusi oleh Pemerintah
"Kenaikan yang signifikan ini terjadi tiba-tiba, tanpa sosialisasi memadai dan tanpa penjelasan utuh. DPR pun tidak mendapatkan informasi maupun diajak berdiskusi. Pola seperti ini terus berulang dan selalu kami kritisi di Komisi VI," lanjutnya.
Legislator asal Jawa Timur ini mengingatkan bahwa BBM adalah urat nadi ekonomi.
Kenaikan harganya akan berdampak berantai pada biaya transportasi, distribusi, hingga harga kebutuhan pokok di pasar.
Mufti kemudian melontarkan pertanyaan reflektif terkait beban berat yang dipikul rakyat saat ini. Ia merasa selama ini hanya rakyat yang diminta untuk selalu mengerti kondisi sulit negara.
"Rakyat selama ini selalu diminta memahami kondisi negara, memahami situasi global, dan beban fiskal. Pertanyaannya, kapan pemerintah mau memahami rakyat? Kapan pemerintah benar-benar menunjukkan bahwa mereka juga mengerti beban berat yang sedang dipikul rakyat?" cecar Mufti.
Menurutnya, kekecewaan masyarakat muncul bukan hanya karena angka yang naik, tapi karena mereka merasa ditinggalkan dalam proses pengambilan kebijakan.
"Tiba-tiba harga berubah, sementara daya beli masih tertekan dan lapangan usaha masih menghadapi berbagai tantangan. Setiap kebijakan BBM harus dilakukan dengan transparan, hati-hati, dan yang terpenting, penuh empati terhadap kondisi rakyat," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Pertamax Naik Rp16.250 per Liter, Driver Ojol Khawatir Pendapatan Makin Tergerus
-
Pertamax Tembus Rp16.250, Begini 10 Cara Menghemat BBM tanpa Harus Ganti Motor
-
Kenaikan BBM Tuai Kritik, DPR Mengaku Tak Pernah Diajak Berdiskusi oleh Pemerintah
-
Resmi Naik! Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
-
Daftar Harga BBM BP Hari Ini di Jabodetabek dan Jawa Timur, BP Ultimate Tembus Rp17.240
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Pertamax Naik Tajam, DPR Prediksi Inflasi Nasional Ikut Terdorong
-
Kenaikan Pertamax Jadi Sinyal Pemerintah Mulai Realistis Kurangi Beban APBN
-
Setahun Berjalan, Prof Nuh Soroti Dua Aspek Utama dalam Evaluasi Sekolah Rakyat
-
Mengapa Lahan Basah Kecil Perlu Diperhitungkan dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim?
-
Mensos Gus Ipul dan Kepala KSP Bahas Perkembangan Program Sekolah Rakyat
-
Dipecat dari TNI, Hakim Sebut Dua Eksekutor Penyiram Air Keras Andrie Yunus Khianati Rakyat
-
Pertamax Naik Rp16.250 per Liter, Driver Ojol Khawatir Pendapatan Makin Tergerus
-
Vonis Banding, Kerry Adrianto Kena Tambahan Uang Pengganti Rp 10,5 Triliun
-
Namanya Terseret Kasus BGN, Dudung Bantah Punya Dapur MBG: Silakan Cek, Saya Kasih Hadiah!
-
Kenaikan BBM Tuai Kritik, DPR Mengaku Tak Pernah Diajak Berdiskusi oleh Pemerintah