Depok.suara.com, Dewan Pengurus Front Pembela Merah Putih Kecamatan Beji mengusulkan kepada Dinas Pendidikan Depok untuk memasukan nama Tole Iskandar dan Margonda di pembelajaran siswa di Sekolah.
Ketua DPC FPMP Beji Yusfik Helmy kepada wartawan mengatakan, FPMP mengusulkan nama Margonda dan Tole Iskandar yang merupakan pahlawan kemerdekaan RI dimasukan kedalam kurikulum Mata Pelajaran sejarah di Sekolah Kota Depok
Dia menambahkan nama Tole Iskandar dan Margonda dijadikan Jalan di Kota Depok.Tole Iskandar gugur saat berperang dengan sekutu di Perkebunan Cikasintu, Kabupaten Sukabumi, pada tahun 1947 bersama Batalion 8.
Saat gugur pangkatnya naik menjadi Letnan Dua. Kini makam Tole Iskandar berada di TMP Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi.
Saat gugur Tole Iskandar berusia 25 tahun. Keluarga besar Tole Iskandar sekarang bermukim di wilayah Bojong
Nama Jalan Tole Iskandar Raya itu diresmikan pada 1973, pada jalan yang jadi pangkalan militer Belanda itu pula, Tole Iskandar sempat membantai lawannya.
“Jadi, perangnya itu bergerilya ya, mulai dari Simpangan Depok, geser ke Bojong Gede sampai ke Bogor,” katanya.
Melalui Gedoran 21, pasukan yang dipimpinnya, Tole Iskandar terlibat perang panas dengan Pasukan Belanda yang pada saat itu dikenal dengan NICA. Tole bahkan mampu menembak jatuh pesawat milik NICA.
Sementara itu, Margonda lahir dan besar di Bogor, pada usia 2 tahun ia dan keluarganya pindah dari Jonggol dan tinggal di Jalan Ardio Bogor (sekarang Bogor Tengah).
Baca Juga: Ke Austria, Menhub Jajaki Kerjasama Bangun Kereta Gantung di IKN Nusantara
Waktu masih sekolah, Margonda terkenal sebagai atlet berprestasi. Nama aslinya adalah Margana. Dia menikah dengan Maemunah, keponakan M. S. Mintaredja yang pernah menjadi Menteri Sosialdalam kabinet Presiden Soeharto sekaligus ketua umum Partai Persatuan Pembangunan.
Margonda adalah nama seorang pemuda yang belajar sebagai analis kimia dari Balai Penyelidikan Kimia Bogor.
Lembaga ini dulunya bernama Analysten Cursus (sekarang SMK - SMAK Bogor). Didirikan sejak permulaan perang dunia pertama oleh Indonesiche Chemische Vereniging, milik Belanda.
Memasuki paruh pertama tahun 1940-an, Margonda mengikuti pelatihan penerbang cadangan di Luchtvaart Afdeeling, atau Departemen Penerbangan Belanda.
Namun tidak berlangsung lama, karena Maret 1942 Belanda menyerah kalah, dan bumi Nusantara beralih kekuasaannya ke Jepang.
Yusfik menambahkan, tujuan dari usulan agar Tole Iskandar dan Margonda dijadikan pembelajaran bagi siswa di Sekolah agae di kemudian hari generasi penerus melalui Kurikulum Pendidikan yang di ajarkan di sekolah dapat mengenal serta Mengenang Para Pahlawan dari Kotanya.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai Jasa para pahlawan bangsanya, sekali Merah Putih Tetap Merah Putih," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi