Depok.suara.com - Sejak kecil, ciri dan kepribadian anak bisa mudah diketahui. Terlebih, pada usia balita sampai anak-anak, kita dapat mengetahui penyakit dari cara berdiri dan cara berjalannya.
Baru-baru ini, penelitian yang mempelajari gerakan anggota tubuh manusia menemukan anak-anak di Jepang memiliki gaya jalan yang berbeda dari kebanyakan anak di negara lain. Perbedaan ini tampaknya dipengaruhi oleh gaya hidup dan kebiasaan mereka, yang dapat menentukan kesehatannya.
“Meskipun perbedaannya sangat tipis, saya terkejut melihat anak-anak di Jepang berjalan dengan posisi kaki lebih ditekuk,” terang ahli terapi fisik dari Pusat Medis dan Rehabilitasi Mikawa Aoitori, Ito Tadashi, Rabu (7/9/2022).
Mengutip dari Vice world, menariknya, Ito juga mengungkapkan cara berjalan mereka tidak berubah seiring bertambahnya usia. Perkembangan fisik dan kualitas hidup anak dapat dilihat dari rangkaian gerakan yang mereka lakukan menggunakan pinggul, lutut dan kaki,bbiasa disebut “gait”.
Ito juga menjelaskan, bahwa gaya jalan bisa menjadi indikasi adanya kelainan, seperti masalah keseimbangan. Semakin cepat suatu kelainan terdeteksi, kata Ito, semakin besar pula peluang untuk menangani masalahnya agar tidak berkembang menjadi lebih parah. Itulah sebabnya, tidak mengherankan bila cara berjalan menjadi salah satu unsur kehidupan manusia yang paling sering diteliti.
Namun, Ito melihat belum banyak penelitian yang mendalami gaya berjalan anak-anak di Jepang. Sehingga, ia tergerak mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai variasi gerakan anak-anak Jepang dari berbagai kelompok usia.
Para peneliti mempelajari gaya berjalan 424 orang anak yang berusia antara enam hingga 12 tahun menggunakan sistem analisis gerak tiga dimensi. Dalam metode pemeriksaan ini, penanda bulat kecil akan ditempelkan pada bagian bawah tubuh anak untuk mengukur pergerakan kaki mereka saat berjalan.
Tim Ito menemukan anak-anak pada kelompok usia lebih tua memiliki langkah yang lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Selain itu, mereka juga lebih banyak melangkah. Hasil temuannya berbeda dari penelitian yang dilakukan di Meksiko. Penelitian tersebut juga menunjukkan langkah anak-anak semakin pendek seiring bertambahnya usia, tapi jumlah langkah mereka tetap sama atau bahkan berkurang setelah lewat usia tujuh tahun.
Ito menduga perbedaan cara berjalan anak-anak di Jepang dengan anak-anak di negara lain berkaitan dengan gaya hidup dan budaya yang mereka anut.
Baca Juga: 5 Bentuk Pelecehan Seksual yang Kerap Dianggap Remeh, Yuk Kenali!
Sejumlah anak yang diteliti cara berjalannya berasal dari sekolah dasar yang sama. Ito menjelaskan, mereka terbiasa berangkat sekolah bersama setiap pagi, sehingga tidak mengherankan apabila pelajar yang lebih muda mengambil langkah lebih panjang untuk mengimbangi langkah anak-anak yang usianya lebih tua.
Ito juga memperhatikan anak-anak pada kelompok usia 11-12 cenderung lebih sering berjinjit atau berjalan dengan bertumpu pada jari kaki, serta menunjukkan rentang gerak di lutut yang lebih sedikit selama berjalan. Ito tidak dapat memastikan apa alasannya, tapi kemungkinan ada hubungannya dengan “seiza”, cara duduk tradisional orang Jepang yang menyelipkan pantat di atas tumit.
Profesor ortopedi pediatrik, Jessica Rose dari Stanford University tidak terlibat dalam penelitian ini, tapi ia melakukan penelitian serupa. Menurutnya, sangat wajar terjadi perbedaan pengukuran pada teknologi yang digunakan. Namun, ia tak yakin betapa bervariasinya data lintas budaya.
“Berdasarkan perhitungan saya, ada satu-dua derajat perbedaan pada gerakan pinggul dan lutut,” terangnya.
Contohnya, posisi penanda yang ditempelkan di sekitar sendi pinggul bisa saja berbeda di setiap subjek. Rose juga menyebutkan model yang digunakan untuk mengukur pusat sendi pinggul dapat berbeda dari lab ke lab, sehingga menciptakan variabilitas dalam data. Andai saja perbedaannya lebih jelas, peneliti dapat memberikan kesimpulan yang lebih pasti.
“Saya terkejut melihat betapa miripnya data kami dengan mereka,” lanjutnya.
Rose mengatakan, kemiripan ini bisa dijadikan sebagai perbandingan, dan kuatnya data yang dikumpulkan Ito dapat bermanfaat bagi evaluasi kelainan gaya berjalan anak.
Selain mempelajari gaya berjalan anak-anak, Ito dan rekan-rekan peneliti juga mempelajari apakah pembatasan sosial selama pandemi, seperti penutupan sekolah, memengaruhi kecepatan berjalan anak dan indikator kesehatan fisik lainnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- 5 Rekomendasi Lipstik Anti Luntur Saat Dipakai Makan Gorengan
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Cedera Betis Jelang Piala Dunia 2026: Brasil Cemas, Jawab Neymar Malah Bikin Heboh!
-
Ketum Jakmania Buka Suara soal Mauricio Souza Tinggalkan Persija, Singgung Target Juara
-
Tren Konten Unboxing Haul: Paket Cepat Datang, Sampah Tertinggal Lebih Lama
-
Serbuan Penumpang di Libur Iduladha: 5.460 Penumpang Padati Stasiun Malang
-
Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan
-
101 Proyek Irigasi Baru Diusulkan ke Pusat: Siap Hijaukan 13 Ribu Hektare Sawah di Lampung
-
Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku
-
Cari HP dengan Kamera Terbaik 2026? Ini 3 Pilihan Flagship yang Setara Kamera iPhone!
-
Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi
-
Review Buku Wawasan Kebangsatan: Negeri yang Dipaksa Baik-baik Saja