/
Minggu, 18 September 2022 | 11:59 WIB
Kupat jembut (Freepik)

Depok.suara.com - Saat mendengar nama jembut, konotasinya selalu mengarah ke sesuatu yang tabu. Maklum saja, jembut sering dikaitkan dengan alat kelamin. Meski demikian, berbeda halnya dengan yang terjadi di Semarang. Kata-kata jembut bukannya dihindari, namun justru menjadi buruan.

Kupat Jembut selalu menjadi buruan warga terutama yang berdomisili di Kampung Jaten Cilik, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, setiap perayaan Syawalan. Tak hanya orang tua, anak-anak bahkan rela bangun lebih pagi untuk berebut Kupat Jembut pada perayaan Syawalan di Kampung Jaten Cilik.

Anak-anak menyerbu rumah-rumah yang telah dipasangi untaian ketupat. Berbeda dengan bentuk pada umumnya, warga Kampung Jaten Cilik membuat ketupat dengan tampilan yang unik.

Sekilas terdapat tauge yang menjunjai keluar dari daun janur yang membungkus ketupat. Bentuknya lebih berisi. Di dalamnya juga diselipi beberapa lembar kertas uang untuk menarik minat anak-anak.

Mengapa makanan khas tersebut mendapat nama sedemikian rupa? Rupanya, tauge yang keluar dari ketupat itu menyerupai rambut kemaluan, sehingga warga membuat plesetan dengan sebutan kupat jembut.

Warga setempat memang sudah lama menyebut ketupat isi taoge itu sebagai Kupat Jembut. Mungkin terdengar menjijikan, namun banyak warga yang antusias membuat Kupat Jembut setiap perayaan Syawalan.

Tradisi Kupat Jembut sudah berlangsung sejak tahun 1950-an. Pembuatan ketupat itu untuk menunjukkan kesederhanaan warga setempat dalam menyambut perayaan Syawalan. Warga biasanya menyantap Kupat Jembut dengan sayuran yang dicampur parutan kelapa dan sambal atau gudangan.

Menurutnya keberadaan kupat jembut merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah yang diberikan selama bulan Ramadan.

Penulis : Panji R.A

Baca Juga: Oknum Polisi Pelaku Aniaya Emak-Emak Ditahan Propam

Load More