Bubu telah menjadi sarapan yang digemari oleh banyak orang. Sehingga, cara santap bubur dengan diaduk maupun tidak diaduk kerap menimbulkan perdebatan.
Sebagian orang memilih bubur diaduk agar bumbu lebih merata. Kendati demikian, beberapa orang lebih menyukai bubur tidak diaduk karena lebih menggugah selera.
Belakangan, media sosial kembali diramaikan dengan perseteruan antara tim bubur diaduk dan tim bubur tidak diaduk. Namun, perseteruan tersebut muncul usai akun TikTok @banggaswan mengunggah video berisi jurnal terkait bubur diaduk dan bubur tidak diaduk.
Melalui akunnya, pengunggah membagikan temuan jurnal yang meneliti perbedaan kecerdasan emosional antara dua tipe cara mengonsumsi bubur tersebut.
"Aku Iseng Baca Jurnal tentang 'Bubur Diaduk dan Tak Diaduk'," terang pengunggah dalam videonya.
Penelitian tersebut, kata pengunggah, berjudul "Hubungan Tipe Makan Bubur (Diaduk dan Tidak Diaduk) Terhadap Tingkat Emosional Anggota OSIS SMAI ALAZHAR 8 Summarecon Bekasi. Adapun, penelitian ini terbit dalam Indonesian Fun Science Journal pada 3 November 2021.
Menanggapi video pengunggah, warganet pun kembali menyerukan tipe makan bubur masing-masing.
"gak diaduk. jangankan bubur. nasi aja sama sayur juga ndak diaduk. sampai teman bilang, saya klo makan tu rapi," ujar salah satu warganet.
"Diaduk. kalo ga diaduk, merica ama micinnya suka ga nyampur," kata warganet lain.
Baca Juga: Kurangi Emisi Karbon,BRI Mulai Gunakan Kendaraan Listrik
"Tim ga diaduk, bahkan gue makan mie ayam aja gue makan ayamnya dulu karna kalo diaduk warnanya jadi jelek," tulis warganet lain.
"Kalo makan bubur diaduk gaenak diliat, jadi suka yang ga diaduk dan bisa nikmatin tiap toppingnya," ucap warganet.
Bubur diaduk vs tidak diaduk
Penelitian pada 2021 silam ini berangkat dari cara masyarakat Indonesia memakan bubur ayam yang terbagi menjadi dua kubu, yaitu bubur diaduk dan tidak diaduk. Para peneliti melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui hubungan cara mengonsumsi bubur ayam dengan tingkat emosional seseorang.
Disebutkan, penelitian merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang berlangsung selama Januari sampai Februari 2021 di SMA Islam Al Azhar 8 Kota Bekasi. Mereka menyasar 60 pengurus OSIS dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode survei dan kuesioner.
Hasilnya, siswa dengan tipe makan bubur diaduk memiliki rata-rata kecerdasan tingkat emosional sebesar 40,8 persen. Sementara itu, siswa yang tidak mengaduk bubur ayamnya memperoleh rata-rata kecerdasan tingkat emosional sebesar 42,5 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Rupiah Menuju Rp18.000 per Dolar AS Lagi, Akan Menguat Jika Investor Asing Kembali ke Indonesia
-
Di Balik Ban Kapten, Ada Sisi Psikologi yang Menentukan Nasib Sebuah Tim
-
Pulang Umrah, Ruben Onsu Akhirnya Buka Suara soal Gugatan Hak Asuh Anak ke Sarwendah
-
Kelola Sampah Organik ala Warga Meruya Selatan Hingga Jadi Bernilai Ekonomi
-
Bukan Pemain, Manchester United Mau Beli Kredit Karbon Indonesia
-
Antrean BBM Surabaya-Gresik Mulai Terurai, BPH Migas dan Pertamina Perkuat Distribusi
-
5 Zodiak Paling Beruntung pada 3 Juli 2026, Rezeki Datang hingga Peluang Karier Terbuka
-
Kebijakan Komisi 8 Persen Ojol Resmi Diterapkan
-
Ribuan Taruna TNI-Polri Jadi Kakak Asuh Siswa di 178 Sekolah Rakyat
-
833 ASN Pendamping PKH Punya Pekerjaan Sampingan, Kemensos Tagih Pengembalian Gaji Rp7,9 Miliar