/
Kamis, 17 Agustus 2023 | 00:10 WIB
Santiwati Pesantren Bintang Al Quran juga membuat film selain belajar ilmu agama. (Tangkap layar YouTube Bintang Al-Qur'an TV)

Depok.suara.com -Pesantren identik dengan tempat menimba ilmu agama Islam yang kaku. Bahkan tak jarang pesantren dianggap tempat yang kuno atau tradisional.

Namun tidak halnya di Pesantren Bintang Al Quran yang berada di kawasan Semplak, Kota Bogor, Jawa Barat.

Di pesantren ini, para santri yang semuanya perempuan, juga diajarkan mengenal kehidupan dan membangun karakter diri, disamping mendalami ilmu agama.

Salah satu caranya adalah dengan membuat film pendek. Dan untuk proyek pertama, mereka telah menyelesaikan sebuah film pendek yang berjudul ‘Estafet Kebaikan’.

Film berdurasi 20 menit ini menceritakan tentang serunya hari-hari santriwati di asrama putri Pesantren Bintang Al Quran menjelang hari kelulusan kakak kelas mereka.

Pengalaman pertama membuat film

Salah satu santri yang terlibat dalam pembuatan film ‘Estafet Kebaikan’ adalah Rizkia Zahira. Selama pembuatan film, ia bertugas sebagai pengarah gaya dan pengambil gambar.

Kia, begitu sapaan akrabnya, mengaku mendapatkan banyak sekali pengalaman baru karena terlibat dalam pembuatan film ini.

Diantaranya, ia jadi tahu bagaimana alur pembuatan film, sekaligus jadi memahami menggunakan berbagai peralatan, seperti kamera.

Baca Juga: Bukan Karena Sombong, Inul Daratista Beberkan Alasan Dirinya Suka Pilih-pilih Teman: Lebih Aman...

Namun yang pasti, Kia mengaku senang karena berhasil melewati semua proses pembuatan film yang cukup rumit, sehingga merasa puas dengan hasilnya.

“Saya jadi bisa mengabadikan momen yang mungkin tidak akan terulang lagi,” ungkapnya.

Selain Kia, Utari Putri juga ikut terlibat dalam pembuatan film ini. Utari juga salah satu santriwati di Pesantren Bintang Al Quran.

Salah satu adegan film 'Estafet Kebaikan' karya santriwati Pesantren Bintang Al Quran (sumber: Tangkap layar YouTube Bintang Al-Qur'an TV)

Menurut dia, membuat film benar-benar memberikan peajaran baru yang benar-benar berbeda dengan materi mengenai agama Islam yang biasa ia dapati di pesantren.

Dari pengalaman barunya ini, Utari jadi belajar bagaimana menulis naskah, pengambilan gambar hingga proses editing.

“Awalnya saya gak ekspektasi bisa membuat film, walaupun filmnya cuma berdurasi 20 menit, tapi gak nyangka aja akhirnya bisa,” ujar Utari.

Load More