Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran di Indonesia pada tahun ini mencapai 5,83 persen, atau sekitar 8,40 juta orang dari total penduduk usia kerja yang sebanyak 208,54 juta orang. Parahnya, sebanyak 13,17 persen di antaranya merupakan pengangguran terdidik alias mereka yang bergelar diploma dan sarjana.
Menurut dosen sekaligus Ketua Program Wirausaha Merdeka Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Hesti Maheswari, tingginya tingkat pengangguran terdidik di Indonesia terjadi akibat kurang terasahnya keterampilan wirausaha para mahasiswa di Indonesia.
“Akibatnya, ketika mereka tidak mendapatkan pekerjaan, atau keluar dari pekerjaan karena terkena pemutusan hubungan pekerjaan (PHK), mereka menganggur,” katanya melalui siaran pers, seperti ditulis oleh Suara.com.
Untuk menekan tingkat pengangguran terdidik tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta Kementerian Keuangan pada tahun ini telah meluncurkan program Wirausaha Merdeka yang diselenggarakan di 17 kampus.
Universitas Prasetiya Mulya sebagai salah satu pelaksana program, membuka kesempatan bagi mahasiswa dari universitas lain dari seluruh Indonesia untuk bergabung mengikuti program tersebut.
Menurut Kepala Sub Program Studi Manajemen Bisnis Universitas Prasetiya Mulya, M. Setiawan Kusmulyono, MM, pendidikan ilmu bisnis memang sangat penting bagi para calon wirausaha.
“Meski pada dasarnya siapa saja bisa memulai bisnisnya sendiri, dan banyak orang yang mengatakan menjadi wirausaha itu tidak perlu sekolah, tapi ilmu bisnis yang diajarkan di kampus, dapat menjadi faktor penentu kesuksesan usaha seorang wirausaha,” ujarnya.
“Mereka yang berbisnis tanpa bekal ilmu akademis, akan belajar melalui proses trial and error. Biasanya proses itu memakan waktu panjang, bisa 10 sampai 15 tahun sampai mereka menemukan formula tepat,” tambah Setiawan.
Sementara itu, pelaku wirausaha yang dibekali dengan teori dan ilmu bisnis punya kemampuan untuk menemukan ide, mencari solusi atas masalah yang dihadapi, dan menjalankan bisnisnya secara terstruktur. Hal ini dapat mengurangi risiko kegagalan dan ketidakpastian saat mereka menjalankan bisnis.
Baca Juga: Yang Mau Cukur Botak Gratis Silakan Ikutan Nih, Sekaligus Dukung Pejuang Kanker!
Di Prasetiya Mulya, kata Setiawan, para mahasiswa dididik dan diajak untuk menjalani proses bisnis dari mulai menggali ide sampai menghadapi aneka tantangan usaha itu, bahkan sejak masa awal perkuliahan.
Dua mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya yang kini menjalani semester IV di Program S1 Bisnis, Clarissa Mitzi dan Siditio Oktobiliandy, mengakui besarnya manfaat ilmu yang mereka dapatkan di kampus sebagai bekal menjalankan usaha. Clarissa yang kini tengah mengembangkan bisnis dessert frozen yoghurt bernama Kuka, mengatakan di dunia nyata menjalankan bisnis tidaklah mudah.
“Niat dan ide saja tidak cukup. Calon pengusaha harus memiliki perencanaan yang baik sebelum mengeksekusi idenya. Teori-teori bisnis yang kami dapatkan di kampus sangat membantu saat kami membuat perencanaan, mulai menjalankan usaha, dan mencari cara untuk mengembangkan usaha kami,” ujarnya.
Sementara itu, Tio yang tengah membangun bisnis produk perawatan rambut Serra, berpendapat bahwa ilmu bisnis sangat menentukan tingkat keberhasilan sebuah usaha yang dijalankan.
“Tanpa ilmu, berbisnis itu seperti berjudi, perbandingan gagal dan berhasilnya 50:50. Tapi dengan dasar ilmu bisnis yang dimiliki, seorang calon pengusaha dapat meningkatkan peluang keberhasilannya hingga 20-30 persen," ungkap Tio menyampaikan pandangannya soal bekal penting berwirausaha.
Berita Terkait
-
5 Modal Buka Usaha Angkringan yang Harus Dipersiapkan dan Total Biayanya
-
5 Ide Bisnis Tahun Baru Islam 1 Muharram, Manfaatkan Momen Agustusan
-
9 Artis Bikin Bisnis Bareng Pasangan, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Punya Lebih dari 20 Usaha
-
Karyawan Tidak Akur dan Penuh Politik Kantor? Selesaikan dengan Strategi Ini!
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 5 Rekomendasi Sepeda Lipat di Bawah 5 Juta yang Ringan dan Stylish, Mobilitas Semakin Nyaman
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Widy Vierratale Punya Gaun Noni Belanda Kayak Istri Gubernur Kaltim, Bongkar Belinya di Mana
-
Lingkaran Setan Kekerasan di Balik Seragam: Mengapa Polisi Junior Terus Jadi Korban Senior?
-
Atas Nama Sahur, Sampai Kapan Kebisingan yang Kehilangan Adab Dimaklumi?
-
Ketahuan? Netizen Curiga Inara Rusli Pakai Akun Palsu untuk Balas Komentar Nyinyir
-
Kementerian ESDM: Perusahaan Amerika Tetap Harus Investasi Jika Mau Akses Mineral Kritis Indonesia
-
Bareskrim Ambil Alih Pengejaran Ko Erwin, Bandar Narkoba Terkait Kasus AKBP Didik
-
Minta Maaf di Era Broadcast: Kegelisahan Pribadi Menjelang Idulfitri
-
Olla Ramlan Go International Lewat Serial Walid Season 2, Perankan Anak Kiai yang Manipulatif
-
Respati Ardi Pastikan Disnaker Solo Buka Posko Aduan THR, Ini Alurnya
-
Divonis 8,5 Tahun, Eks Bupati Lampung Timur Wajib Kembalikan Rp3,9 Miliar Kasus Pagar Rumah Dinas