Monita Tahalea bukan lagi menjadi penyanyi jebolan ajang pencari bakat Indonesian Idol berusia 18 tahun namun telah bertransformasi menjadi musisi perempuan yang memiliki warna musik tersendiri sekaligus produser yang memproduksi album pribadi.
Dalam konser bertajuk "Dandelion" di Teater Salihara Pasar Minggu, Jakarta pada Sabtu (28/5/2016), Monita menampilkan 16 lagu di hadapan sekitar 250 orang penggemarnya. Penonton dalam jumlah minimalis menjaga konser tetap intim saat mendengar suara empuk Monita dipadu dengan ciri musiknya yang masih "nge-jaz" tapi riang.
"Dandelion" juga merupakan judul album ketiga Monita sekaligus menjadi pembuktian kepiawaiannya dalam menciptakan lagu karena dari 9 lagu dalam album tersebut, Monita menulis 8 liriknya.
"Mungkin bukan album terbaik di seluruh dunia tapi album ini benar-benar yang ingin aku sampaikan dan agar yang mendengar mendapat harapan yang tidak putus-putusnya," ucap Monita dari panggung yang hanya dilapisi karpet rumput dan bunga untuk menghadirkan suasana "taman bunga".
Konser yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB tersebut dibuka dengan lagu "Kekasih Sejati", lagu lama dari album "Kemenangan Hati" milik Yovie Widianto. Monita yang mengenakan gaun hitam "one shoulder" selutut itu hanya diiringi oleh gitar akustik dari Gerald Situmorang, mitranya yang juga memproduseri album Dandelion.
Namun pada lagu kedua yaitu "Ingatlah" Monita sudah lengkap diiringi oleh band-nya yaitu Yoseph Sitompul pada piano, Jessi Matel pada drum, Indra Perkasa pada Contra Bass, Ricad Hutapea pada Saxophone dan flute, Fafan Isfandian pada biola dan Dwipa Hanggana Pratala pada Cello.
Pertunjukan dilanjutkan dengan lagu "How Great Thou Art" dan "I Love Mama", satu lagu yang ia buat untuk suatu produk perawatan kulit namun bertujuan menunjukkan cinta Monita kepada ibunya.
Saat konser, keluarga Monita yang terdiri dari ayah, ibu, kakak, adik, nenek, ipar, sepupu hingga keponakannya memang ikut menonton dan memberikan dukungan.
"Senja" pun menjadi tembang pertama dari album "Dandelion" yang dinyanyikan dalam konser ini. Namun senja yang jingga bukan menjadi akhir hari, tapi sebaliknya awal dari episode penuh harapan yang didominasi warna jingga.
Harapan Pada "set kedua", Monita berganti kostum menjadi terusan warna jingga terang variasi kerut, tampak serasi dengan rambut cokelatnya yang dibiarkan bergerai.
Lagu "Hai" dimulai dengan akustik sehingga para pemain band membawakan pianika, ukulele, gendang kecil dan flute sebagai pengganti "grand piano", gitar, drum dan saksofon.
"Hai teman, apa kabar?" tanya Monita dengan tersenyum, yang dijawab "hai" oleh penonton dengan riang.
Selanjutnya, penonton pun menikmati lagu "Tak Sendiri" yang memang dinyanyikan secara duet bersama rekannya, Gabriela Cristy dan masih mengangkat suasana cerita dan berpengharapan.
Tempo pertunjukan dibawa lebih melambat dalam lagu "168", meski dengan lirik yang tetap membawa asa yaitu "Cinta bukan tentang menanti dan menunggu/tetapi memang telah waktunya bertemu/walau tidak selalu berakhir bersama/mungkin nanti bertemu kembali/".
Suasana syahdu tetap terpelihara dalam lagu selanjutnya "Perahu" dengan permainan bunyi-bunyian dari kontra bass. Lirik lagu ini menurut Monita bercerita tentang gadis bingung dan pengembara.
"Awalnya aku suka tulis cerpen di blog, tapi blognya gak ada yang baca jadi aku bikin lagu saja, hehe. Ini tentang si bingung yaitu perempuan yang suka galau macam-macam, kalau pengembara itu kan laki-laki yang belum tahu akan berlabuh di mana," ungkap Monita.
Syukurlah, kegalauan tidak berlanjut karena pada lagu "Bisu" Monita mengundang pianis jaz lulusan Conservatorium van Amsterdam, Belanda Sri "Aga" Hanuraga. Jari-jari Aga dengan lincah bermain di "grand piano" dan menghadirkan suasana jaz yang meriah dan meski berjudul "Bisu" lirik dan komposisi lagu malah mendorong pendengarnya untuk menyampaikan pikiran dan perasaan dengan bebas.
"Saat Teduh" menjadi lagu selanjutnya. Monita membawakan lagu ini bersama dengan rekan yang kerap mengiringinya manggung sebelum memiliki band yaitu Bernardus Ajutor Moa.
"Hingga titik ini, saya yakin Tuhan yang memelihara karena menyanyi bukan hanya pekerjaan untuk saya, tapi juga sebagai ucapan syukur karena membuat saya bertemu dengan orang-orang yang membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ungkap Monita menceritakan lagu "Saat Teduh".
Suasana cerita kembali tampak dalam lagu "I'll be Fine" dan "Memulai Kembali". Video klip "Memulai Kembali" bahkan sudah ditonton lebih dari 637 ribu orang sejak diluncurkan empat bulan lalu.
Warna jaz sekali lagi hadir dalam lagu "Breathe" dengan iringan terompet dari Jordy Waelauruw. Kali ini bahkan didampingi seorang pemain pantomim untuk mengekspresikan lirik ciptaan Monita agar meski rindu tidak bertepi tapi selalu percaya.
Lagu pamungkas adalah "Hope" yang berasal dari album "Dream, Hope and Faith" (2010) yang tentu jelas mendorong ada pendengarnya menjaga harapan meski dalam keadaan tersulit.
Meski tidak ada "encore" dalam konser ini, namun pesan untuk tetap tumbuh dalam kondisi sesulit apapun seperti bunga "Dandelion" jelas tersampaikan dalam pertunjukan berdurasi 2 jam tersebut. Penyebabnya adalah Monita punya pesan dari hati bagi para penggemarnya seperti yang disampaikan salah seorang anggota band dalam video "Di Balik Pembuatan Album Dandelion" yang diputar dalam konser.
"Suara Momon (Monita) itu tipis dan lembut, tapi nembus ke 'soul' orang," kata Yoseph. Dan harapan itu pun sudah masuk ke dalam jiwa masing-masing penonton di Salihara. (Antara)
Berita Terkait
-
Prambanan Jazz Festival 2026 Umumkan Line Up Terbaru, Ini Daftar Penampil Hari Pertama hingga Ketiga
-
Ironi Luky Alfirman: Lengser Gegara Loloskan Motor Listrik MBG, Garasi Pribadinya Cuma Mobil Tua
-
Menuju Java Jazz Festival 2026 di NICE PIK Kini Lebih Mudah, Ada Shuttle dari Jakarta dan Sekitarnya
-
Honda Jazz Terakhir di Indonesia Tahun Berapa? Segini Harga Bekasnya Sekarang
-
Jazz Goes To Campus 2026 Hadir di TIM, Gandeng Erwin Gutawa hingga Tohpati
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Efek 'Semua Akan Baik-Baik Saja': Film Baim Wong Ini Sukses Bikin Penonton Minta Maaf ke Orangtua
-
Kejutan di Cannes Film Festival 2026: John Travolta Menangis Raih Palme d'Or
-
Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
-
Tinggal Menghitung Hari, Ini Alasan Amanda Manopo Pilih Jalani Persalinan Caesar
-
Sajen Satu Suro: Misteri Keris Terkutuk dan Rahasia Kelam 30 Tahun Silam
-
Siap Nikah, Cinta Brian Sebut Keputusan Kini Ada di Tangan Gisel: Kalau Dia Bilang Gas, Ya Gas
-
Dulu Nangis Janji Tobat, Egi Fazri Si Vidi KW Muncul Lagi Nyanyikan Nuansa Bening
-
Anak Deddy Dores Jual Mata Rp350 Juta: Capek Hidup Begini
-
Cara Dapat Akses Nonton Film Pesta Babi: Gratis, Tapi Ada Minimal Penontonnya
-
Fakta Syekh Ahmad Al Misry Terungkap: Cuma Penerjemah dan Tinggal Menumpang di Rumah Mertua