Entertainment / Gosip
Jum'at, 11 November 2022 | 12:54 WIB
The Panturas [Soundstream]

Suara.com - Band The Panturas mengkritik langkah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Puan Maharani yang memilih ke Itaewon, Korea Selatan saat publik Tanah Air sedang memperingati 40 hari tragedi Kanjuruhan.

"40 hari tragedi Kanjuruhan, Ketua DPR yang seharusnya berbicara paling lantang mewakili rakyat malah ke Itaewon," tulis The Panturas di akun Twitter resminya pada 10 November 2022 sambil membubuhkan emoji tepok jidat.

Unggahan The Panturas soal Puan Maharani [Twitter/@thepanturas]

The Panturas juga menyayangkan tidak adanya pihak yang mengingatkan Puan Maharani untuk lebih dulu mengusut tuntas Tragedi Kanjuruhan.

"'Bu Puan, besok 40 hari Kanjuruhan, kita tabur bunga saja ke Malang yuk. Kita seharian di Malang, ikut berdoa di stadion, terus habis makan siang ketemu Kapolda buat follow up kasusnya sudah sampai mana. Malamnya kita ngobrol ama supporter, bu. Ini bisa sedikit perbaiki citra Ibu'. Kan stafnya kudunya ada yang bisikin begitu ya," lanjut cuitan The Panturas.

The Panturas pun menyoroti kinerja para wakil rakyat yang lagi-lagi dianggap tidak mewakili kepentingan publik karena seolah melupakan insiden yang lebih penting di negaranya sendiri.

Puan Maharani datangi lokasi tragedi Itaewon di Seoul, Korea Selatan. (Instagram/ puanmaharaniri)

"Masak kudu kami yang jadi anggota DPR?" kata akun The Panturas.

Keresahan The Panturas terkait aksi Puan Maharani mendapat dukungan warganet. Mereka sependapat dengan rendahnya empati wakil rakyat karena lebih mementingkan tragedi di negara lain.

"Rakyat mana yang mereka wakili?" tanya akun @aliansa_.

"Apa yang kau harapkan dari wakil rakyat yang nggak pernah menjadi rakyat?," ucap akun @ArikJez.

Baca Juga: Bikin Nangis, Puluhan Anak Lantunkan Doa untuk Korban Kanjuruhan, Puan Kunjungi Lokasi Tragedi Itaewon

Sebagai pengingat, kekalahan Arema FC atas Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang pada 1 Oktober 2022 memicu kemarahan Aremania yang datang menyaksikan pertandingan.

Usai peluit panjang dibunyikan, salah satu Aremania turun ke lapangan untuk mengutarakan kekecewaan dan disusul yang lain.

Imbasnya, polisi langsung menembakkan gas air mata untuk mengurai massa. Sayang, asap dari gas air mata justru memenuhi tribun tempat Aremania yang tidak ikut melakukan protes.

Tembakan gas air mata juga yang diduga menimbulkan banyaknya korban jiwa dari Aremania yang masih berada di tribun suporter karena sesak napas.

Buntut insiden di Kanjuruhan saat itu, ratusan Aremania dinyatakan meninggal dunia. Sedang dari pihak kepolisian, dua anggota yang malam itu bertugas mengamankan pertandingan ikut menjadi korban.

Load More