Suara.com - Di tengah pro kontra penggatian nama RSUD Al Ihsan menjadi Welas Asih, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengadakan pertemuan sederhana dengan Kiai Haji Olih Komarudin yang merupakan ketua yayasan RSUD Al Ihsan.
Kiai Olih sendiri merupakan ketua yayasan kedua yang menggantikan ketua sebelumnya, Ukman Sutaryan, yang terlibat korupsi.
Dalam kesempatan itu, Dedi menceritakan bahwa awalnya rumah sakit tersebut dibangun dengan niat mulia oleh para tokoh Islam dan masyarakat untuk memberikan layanan kesehatan masyarakat Jawa Barat.
“Jadi kalau niatnya bagus banget sebagai tokoh masyarakat, tokoh Islam di Jawa Barat. Pengin orang Jawa Barat punya rumah sakit Islam,” kata Dedi Mulyadi dikutip dari akun Instagram @dedimulyadi71 pada Selasa, 8 Juli 2025.
Namun ternyata di tengah proses pembangunan tersebut, terjadi sebuah pelanggaran administratif yang akhirnya membuat ketua yayasan tersandung kasus hukum.
Akibat pelanggaran yang dilakukan ketua yayasan terdahulu, rumah sakit tersebut sempat disita dan berstatus sengketa sebelum akhirnya diserahkan ke Pemprov Jabar.
“Tapi lupa pada mekanisme, uang pemerintah dimasukkan ke yayasan, yayasannya dipimpin oleh pejabat itu sendiri yang mengeluarkan uang, kan itu yang tidak boleh," kata Dedi.
Meskipun pendiri rumah sakit terdahulu tersandung kasus hukum, namun Dedi menegaskan bahwa jasa para pendiri tetap harus dikenang dan dihormati.
Oleh sebab itu, Dedi berjanji akan mengabadikan nama-nama para pendiri RSUD Al Ihsan dalam prasasti yang nanti akan segera dibangun.
Baca Juga: Salam Sampurasun Disinggung Habib Rizieq Usai Dedi Mulyadi Ganti Nama RSUD Al Ihsan
“Nanti kita bikinkan prasastinya. Jadi nanti prasasti perubahan dari RSUD Al Ihsan namanya menjadi RSUD Welas Asih,” bebernya.
Meski tindakan para pendiri yang terdahulu melanggar hukum, namun menurut Dedi mereka sebelumnya sudah memiliki niat baik.
”Tetap nama-nama perintisnya itu dimasukkan karena dia sudah berbuat baik walaupun langkahnya salah, tapi niatnya baik,” ujar Dedi.
Menurut gubernur Jawa Barat tersebut, tanpa adanya keberanian dan pengorbanan para pendiri sebelumya, rumah sakit itu tak akan pernah ada.
“Tidak akan ada rumah sakit ini, kalau tidak ada orang-orang ini yang harus menebus dengan penjara,” pungkasnya.
Melansir dari Bapenda Jabar, sejarah pendirian Rumah Sakit Al-Ihsan merupakan inisiatif tokoh-tokoh Islam Jawa Barat untuk menyediakan layanan kesehatan bagi umat.
Pada awalnya pembentukan yayasan dilakukan oleh gabungan tokoh NU, Muhammadiyah, Persis, MUI, dan masyarakat.
Masalah mulai muncul saat dana pembangunan yang berasal dari APBD Jawa Barat justru dimasukkan ke dalam yayasan yang dipimpin oleh pejabat aktif. Hal ini yang kemudian menimbulkan persoalan hukum.
Total dana APBD sekitar 22 miliar rupiah digunakan untuk anggaran rutin, pembangunan, dan bantuan lainnya.
Hal tersebut dinilai cacat secara hukum karena tidak sesuai mekanisme administratif pemerintahan.
Atas penyalahgunaan tersebut, rumah sakit sempat disita dan menjadi barang sitaan pengadilan.
Kemudian pengadilan menyerahkan aset rumah sakit kepada Pemprov Jabar karena dananya bersumber dari negara.
Setelah kasus hukum yang menjerat ketua yayasan RSUD Al Ihsan, akhirnya diputuskan untuk menjadikan Kiai Olih sebagai ketua yayasan yang baru.
Latar belakang soal rumah sakit itu menjadi salah satu alasan Dedi Mulyadi mengubah nama menjadi RSUD Welas Asih.
Kata Welas Asih diambil dari makna Ar Rahman dan Ar Rahim dalam Islam yang mewakili kasih sayang bagi semua.
Kontributor : Rizka Utami
Berita Terkait
-
Dedi Mulyadi Lantik Pejabat Pemprov Jabar di Kolong Tol Cileunyi, Tuai Pro dan Kontra
-
Susi Air di Kertajati, Dedi Mulyadi Beberkan Alasan 5 Rute Favorit
-
Viral Lagi! Dedi Mulyadi Mencak-mencak saat Ribut Mulut dengan Sopir Truk: Anda Punya Mata Gak?
-
Dicibir Gegara Ganti Nama Rumah Sakit Al Ihsan, Dedi Mulyadi Sindir Balik Pengkritiknya
-
Geger Pratama Arhan Diadukan Mertua ke KDM karena Malas Lakukan Kewajiban Orang Islam
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Inara Rusli Diduga Sindir Istri Sah Insanul Fahmi, Bahas Cadar dan Nafkah
-
Lesti Kejora Tak Terbukti Langgar Hak Cipta, Polisi Resmi Hentikan Laporan Yoni Dores
-
Bosan Jadi Duda, Nassar Buka Peluang Menikah Sebelum Gelar Konser Solo: Laki-Laki Butuh Pendamping
-
Ibu Fairuz A Rafiq Makin Lemah Akibat Alzheimer, Sering Lupa Anak dan Cucu
-
Dijodohkan dengan Ipar Syahrini, King Nassar Akhirnya Buka Suara Soal Perasaannya
-
Ultah ke-4, Ameena Makin Kritis: Minta Kejutan Tengah Malam hingga Undang Tamu Sendiri
-
King Nassar Siap Gelar Konser Tunggal Perdana, Bakal Lebih Heboh dari Aksi Panjat Tiang
-
Didik Anak Beribadah, Fairuz A Rafiq dan Sony Septian Terapkan 'Rapor Ramadan'
-
Update Kasus Lesti Kejora vs Yoni Dores, Rizky Billar Datangi Polda Metro Jaya
-
Akun TikTok Ini Kritik Kontribusi Tasya Kamila Sebagai Alumni LPDP Selevel Ibu-Ibu PKK: Sampah!