Entertainment / Film
Jum'at, 15 Agustus 2025 | 21:00 WIB
Jumlah Penonton Film Merah Putih One for All Hari Pertama di Luar Dugaan (YouTube)

Banyak yang menyamakan kualitas animasinya dengan storyboard bergerak atau bahkan tugas sekolah yang belum rampung.

Perbandingan dengan film animasi Indonesia lain pun kerap memojokkan Merah Putih One for All.

Kontroversi semakin menguat ketika publik mengetahui bahwa film ini memiliki anggaran produksi sekitar Rp6,7 miliar.

Angka itu dinilai tidak sebanding dengan hasil akhir yang ditampilkan, meskipun sudah dibantah.

Sutradara Hanung Bramantyo bahkan ikut menyindir, bahwa dengan biaya sebesar itu seharusnya bisa menghasilkan karya yang jauh lebih layak.

Beberapa kritikus menduga ada kemungkinan pengerjaan terburu-buru atau bahkan penyimpangan dalam penggunaan dana.

Tak berhenti di situ, muncul pula tuduhan penggunaan aset digital tanpa izin.

Endiarto, produser eksekutif sekaligus sutradara film Merah Putih One For All saat ditemui di kantornya di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Selasa, 12 Agustus 2025. [Suara.com/Tiara Rosana]

Sejumlah aset animasi, mulai dari latar hingga karakter, disebut diambil dari toko digital seperti Daz3D tanpa modifikasi memadai.

Seorang kreator 3D asal Pakistan bahkan mengklaim enam karakter buatannya digunakan tanpa sepengetahuannya.

Baca Juga: Film Merah Putih One For All Tayang di Mana Saja? Cek Daftar Bioskopnya

Tanggapan dari produser film, Toto Soegriwo, justru menambah bara dalam api kontroversi.

Melalui media sosial, dia menulis, "Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain."

Kalimat ini dianggap meremehkan kritik publik dan membuat kemarahan warganet semakin memuncak.

Di sisi lain, isu keterlibatan pemerintah juga sempat mewarnai pemberitaan.

Awalnya, ramai dugaan bahwa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) ikut mendanai produksi film ini.

Namun, Wamenparekraf membantah keras kabar tersebut dan menyatakan pihaknya hanya memberikan masukan tanpa bantuan dana sepeser pun.

Kombinasi antara kontroversi, rasa penasaran penonton, dan pembicaraan masif di media sosial membuat Merah Putih One for All menjadi sorotan panas.

Angka 720 penonton di hari pertama terlihat kecil untuk ukuran film nasional.

Namun dalam konteks film ini, capaian tersebut justru dianggap "luar dugaan" oleh banyak pihak.

"Mungkin 720 orang itu ingin tahu seperti apa rasanya menonton film yang bikin satu negeri ribut," kata warganet.

Dengan begitu banyak perdebatan, film ini tampaknya akan terus menjadi bahan pembicaraan.

Entah karena kualitasnya, kontroversinya, atau karena statusnya sebagai salah satu fenomena unik di dunia perfilman Indonesia.

Kontributor : Chusnul Chotimah

Tag

Load More