-
Ali mengumumkan tur Australia pada Februari 2026 sekaligus memastikan akan merilis materi baru setelah menyelesaikan proses rekaman.
-
Mereka membagikan pengalaman manggung di dalam dan luar negeri, menyebut perbedaan utama terletak pada geografis dan cuaca, sementara antusiasme penonton relatif sama.
-
Ali menilai perpaduan musik Timur Tengah dalam karya mereka sebagai hasil akulturasi budaya yang wajar, sembari terus berkembang dengan fanbase internasional yang mulai terbentuk.
Suara.com - Usai memanaskan panggung Joyland Sessions hari kedua di GBK City Park, Senayan pada Minggu, 30 November 2025, unit musik Middle Eastern Funk asal Jakarta, Ali, membagikan kabar gembira bagi para penggemarnya.
Band yang tengah naik daun berkat nuansa musik Timur Tengah yang kental ini membocorkan rencana tur internasional mereka tahun depan.
Arswandaru Cahyo (Vokal/Bass), John Paul Patton alias Coki (Vokal/Drum), dan Absar Lebeh (Vokal/Gitar) tampaknya tidak ingin berlama-lama beristirahat.
Setelah mencatatkan sejarah sebagai band Indonesia pertama yang tampil di Fuji Rock Festival Jepang, kini mereka membidik Benua Kanguru.
Tur Australia dan Materi Baru
Ditemui usai turun panggung, Daru, sapaan akrab Arswandaru, mengungkapkan bahwa bulan Desember ini akan dimanfaatkan para personel untuk rehat sejenak bersama keluarga di Indonesia sebelum kembali sibuk di awal tahun 2026.
"Bulan ini enggak (ada tur). Kita baru akan tur lagi di Februari tahun depan. Ke Australia," ungkap Daru.
Tak hanya soal panggung, produktivitas "supergrup" ini juga patut diacungi jempol. Daru membocorkan bahwa mereka baru saja merampungkan sesi rekaman untuk materi anyar.
Ini menjadi kabar segar setelah sebelumnya mereka merilis EP pada Februari 2025 lalu.
Baca Juga: Momen Manis Konser Ungu di Jogja: Beri Hadiah Bulan Madu untuk Fans dari Pasuruan
"Kemarin kami juga baru selesai rekaman, jadi ngambil waktu untuk istirahat dulu sebentar. Tahun depan kami juga akan ada rilisan baru lagi," tambahnya memastikan.
Beda Panggung Lokal vs Internasional
Sudah mencicipi berbagai panggung mancanegara, personel Ali punya pandangan menarik soal perbedaan manggung di kandang sendiri dibanding di luar negeri.
Coki sempat berseloroh bahwa perbedaannya "jauh banget", namun Daru menjelaskan lebih detail bahwa tantangan utamanya hanyalah faktor geografis dan cuaca.
"Bedanya banget ya pasti geografis ya. Terus cuaca... kami belum pernah ngalamin yang dingin banget akhirnya ketemu dingin banget," tutur Daru.
Soal antusiasme penonton, menurut mereka tidak jauh berbeda. Ada kalanya penonton sangat seru, ada kalanya biasa saja, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Namun, pengalaman di luar panggunglah yang menjadi nilai tambah bagi mereka.
"Justru kadang experience-nya lebih banyak di luar panggung yang kami temui sepanjang perjalanan," lanjutnya.
Mengenai fanbase internasional, Daru mengakui sudah mulai terbentuk kantong-kantong pendengar di beberapa wilayah, khususnya Eropa.
"Mungkin kecil-kecil kali ya. Udah mulai ada sih yang ngajak foto gitu-gitu. Tapi kayak di Eropa, di beberapa region udah mulai ada," tutur dia.
Musik Timur Tengah yang Organik
Di tengah gempuran musik pop dan rock, Ali hadir dengan genre yang unik, yakni soul/funk era 70-an dengan lirik Bahasa Arab.
Ketika ditanya mengenai fenomena eksplorasi musik di Indonesia yang kian luas,seperti munculnya musik Latin lokal, Daru melihatnya sebagai proses akulturasi budaya yang wajar.
"Mungkin kita dengan Arab juga sudah berkolaborasi di bidang ekonomi, dan itu hal yang sangat organik dan natural terjadi. Mungkin di musik karena enggak muncul di permukaan jadi subtle aja terasanya," jelas Daru.
Dia menekankan bahwa percampuran budaya (mixing) ini terjadi setiap hari di berbagai lini kehidupan, sehingga wajar jika hal tersebut tumpah ke dalam karya musik.
Menutup wawancara, ketika disinggung soal rumor partisipasi mereka di festival besar tahun depan, personel Ali memilih untuk tetap misterius.
"Belum bisa kita share juga kalau itu ya. Mungkin ada... Minta doanya saja," pungkas Daru diiringi tawa Absar yang mengamini.
Profil Band Ali: "Habibi Funk" dari Jakarta
Bagi yang belum familiar, Ali bukanlah band sembarangan. Grup ini terbentuk di Jakarta dan mencuri perhatian skena musik independen lewat konsep visual dan audio yang sangat distingtif.
Mengusung tagline musik Middle Eastern Beats dipadu South East Asian Twists, mereka menghadirkan nuansa disco, funk, soul, dan afrobeat tahun 70-an yang sinematik.
Ali sering disebut sebagai supergrup karena diisi oleh musisi-musisi yang sudah punya nama besar di jalurnya masing-masing.
Arswandaru Cahyo (Vokal & Bass) sebelumnya dikenal lewat band psychedelic rock, Mooner.
Sementara John Paul Patton "Coki" (Vokal & Drum), adalah sosok enerjik yang juga punggawa band rock Kelompok Penerbang Roket (KPR).
Lalu Absar Lebeh (Vokal & Gitar), merupakan gitaris handal dari The S.I.G.I.T dan Mooner, yang bergabung menggantikan posisi Kevin Septanto (Elephant Kind).
Perjalanan Karier & Prestasi
Nama Ali melejit lewat debut single mereka; Dance, Habibi, yang viral di kalangan penikmat musik sidestream.
Lagu ini menonjolkan lirik berbahasa Arab yang jarang ditemui di band Indonesia non-religi.
Pada tahun 2023, mereka merilis album penuh bertajuk "Malaka". Album ini mendapat sambutan hangat karena kualitas produksi yang matang dan eksplorasi bunyi yang kaya.
Pencapaian terbesar mereka sejauh ini adalah keberhasilan menembus pasar internasional. Pada Juli 2024, Ali tampil di Fuji Rock Festival, salah satu festival musik terbesar dan paling bergengsi di Asia yang digelar di Jepang.
Penampilan mereka di sana mengukuhkan posisi Ali sebagai salah satu ekspor musik terbaik Indonesia saat ini.
Dengan rencana tur Australia di Februari 2026 dan materi baru yang sedang dipersiapkan, Ali tampaknya siap untuk terus melebarkan sayapnya lebih jauh lagi.
Berita Terkait
-
Dance Habibi Tutup Aksi Memukau Ali di Joyland Sessions 2025
-
Soundrenaline Sana-Sini Bandung: Ketika Jalan Braga Menjadi Panggung Kreatif Raksasa
-
Doa dan Dukungan Posan Tobing atas Bencana Banjir Longsor di Tapanuli dan Sibolga
-
Now or Nothing: The Founder5 Kembali ke Panggung untuk Pertunjukan Terakhir
-
Wolf Alice Umumkan Tur Global, Siap Tampil di Jakarta Januari 2026
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 4 Mobil Keluarga Bekas 50 Jutaan: Mesin Awet, Cocok Pemakaian Jangka Panjang
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
Pilihan
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
Terkini
-
Viral Momen Haru Insanul Fahmi Ketemu Anak, Wardatina Mawa Wanti-Wanti: Tolong Jangan Digoreng!
-
Review 28 Years Later: The Bone Temple, Lebih Brutal Namun Manusiawi
-
Bentuk Telinga Roby Tremonti Dianalisis Pakai Ilmu Kuno Tiongkok, Apa Hasilnya?
-
Sinopsis The Dealer, Jung So Min dan Lee Soo Hyuk Guncang Dunia Kasino di Drakor Terbaru Netflix
-
6 Drama Member NCT, Terbaru Jisung Bintangi Crash 2
-
Viral Isu Kak Seto Curi Hak Cipta, Siapa Kreator Asli Si Komo?
-
Baru Rilis di Netflix, 5 Fakta Menarik Can This Love Be Translated?
-
Fakta Album Baru BTS ARIRANG, Begini Cara ARMY Indonesia Membelinya
-
Lelah Tunggu Anak Sule, Teddy Pardiyana Akhirnya Gugat Penetapan Ahli Waris Lina Jubaedah
-
Kejang-Kejang, Farida Nurhan Dilarikan ke Rumah Sakit