Entertainment / Gosip
Minggu, 04 Januari 2026 | 13:00 WIB
Arie Kriting Diserbu Warganet Usai Singgung Kontroversi Sal Priadi (instagram)

Suara.com - Komentar komika Arie Kriting di media sosial justru menjadi sasaran kritik warganet saat menanggapi kontroversi yang menyeret nama musisi Sal Priadi.

Isu ini mencuat pada akhir Desember 2025, ketika foto lama kebersamaan Sal Priadi dan Sitok Srengenge kembali viral di platform X.

Publik bereaksi keras karena Sitok Srengenge memiliki rekam jejak dugaan kekerasan seksual pada 2013 terhadap seorang mahasiswi.

Melalui akun X miliknya, Arie Kriting menyampaikan pandangan soal maraknya perdebatan publik terkait kasus kekerasan seksual di internet.

Menurut Arie, keributan di media sosial terjadi karena negara dinilai gagal memberikan kepastian hukum bagi korban kekerasan seksual.

"Semua pertikaian sosmed mengenai kasus kekerasan seksual terjadi karena negara gagal memberikan kepastian hukum," tulis Arie Kriting pada Jumat, 2 Januari 2026.

Suami Indah Permatasari itu menilai lemahnya penegakan hukum membuat masyarakat saling berdebat dan mempertanyakan sikap satu sama lain di ruang digital.

"Berisiknya dapat, keadilannya tidak," lanjut Arie dalam cuitan yang kemudian memicu respons luas dari warganet.

Sejumlah warganet tidak sepakat dan menilai suara publik justru penting ketika keadilan hukum belum berpihak pada korban.

Baca Juga: Arie Kriting Sebut Rizky Febian dan Mahalini Pasangan Sempurna: Gak Akan Ada Konflik Royalti

"Apalagi kalau tidak berisik? Bukankah konsep no viral no justice berawal dari negara gagal menerapkan keadilan," tulis seorang warganet.

Sal Priadi Tuai Amarah Usai Foto Bareng Terduga Pelaku Kekerasan Seksual (instagram)

Perdebatan pun berkembang menjadi diskusi panjang antara Arie Kriting dan sejumlah pengguna media sosial lainnya.

Menanggapi kritik tersebut, Arie Kriting memberikan klarifikasi lanjutan agar pernyataannya tidak disalahartikan.

"Twit itu tidak ditujukan kepada yang setia bersuara melawan kasus pelecehan seksual," jelas Arie Kriting.

Sutradara film Kaka Boss tersebut menegaskan kemarahannya ditujukan pada lemahnya sistem hukum, bukan pada gerakan publik yang membela korban.

"Saya kesal lihat rakyat terus berada di posisi sulit karena lemahnya penegakan hukum atas isu-isu semacam ini," lanjutnya.

Namun klarifikasi tersebut belum sepenuhnya meredam kritik dari warganet yang tetap menilai pernyataannya problematik.

Seorang warganet menyebut akar masalah bukan perdebatan media sosial, melainkan keberadaan kasus kekerasan seksual itu sendiri.

"Banyak yang berisik aja keadilannya nggak dapat, apalagi nggak berisik," tulis warganet tersebut.

Arie kemudian menjelaskan posisinya dengan mencontohkan kasus Sitok Srengenge yang status hukumnya dianggap abu-abu.

"Kalau kasus Sitok itu berjalan sesuai proses hukum lalu dijatuhi hukuman, statusnya jadi tidak abu-abu," ujar Arie.

Dia lantas membandingkan dengan kasus Saipul Jamil yang telah diputus bersalah sehingga respons publik menjadi lebih tegas.

"Cancel dia jadi lebih mudah," kata Arie Kriting dalam balasan kepada warganet.

Namun pernyataan Arie soal "tidak perlu berisik setiap tahun" justru kembali memicu kemarahan warganet lainnya.

"Malah makin ngaco, justru harus berisik tiap hari biar orang-orang makin tahu," tulis seorang pengguna X.

Arie Kriting kembali menegaskan bahwa maksudnya bukan melarang suara publik, melainkan mengkritik absennya penegakan hukum.

"Tidak perlu karena seharusnya dia sudah dihukum," jelas Arie menanggapi kebingungan warganet.

Dia menyebut masyarakat seharusnya tidak perlu lelah mengulang isu lama jika hukum bekerja sebagaimana mestinya.

"Tidak perlu semua keributan ini kalau hukum berjalan seperti seharusnya," tulis Arie Kriting.

Perdebatan panjang ini membuat Arie Kriting menjadi sorotan, bahkan tak kalah ramai dibanding isu awal yang melatarbelakanginya.

Kontributor : Chusnul Chotimah

Load More