Entertainment / Film
Rabu, 22 April 2026 | 06:00 WIB
Sutradara film Garuda di Dadaku Animasi, Ronny Gani saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa, 21 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana].
Baca 10 detik
  • Sutradara Ronny Gani membawa pengalaman belasan tahun dari Hollywood untuk merombak Garuda di Dadaku menjadi film animasi fantasi berkualitas dunia.
  • Berbeda dari versi asli, film ini memperkenalkan elemen magis seperti jersei mistis dan karakter burung Garuda ajaib bernama Gaga yang diisi suara oleh Kristo Immanuel.
  • Melibatkan talenta seperti Quinn Salman dan Revalina S. Temat, film ini bertujuan menginspirasi penonton untuk berani mengejar mimpi di tengah berbagai keterbatasan.

Suara.com - Setelah belasan tahun berkarier di industri visual effects Singapura dan terlibat dalam proyek Hollywood sekelas Avengers, sutradara Ronny Gani akhirnya kembali ke Indonesia.

Dia pulang membawa misi besar, yakni menyutradarai film animasi Garuda di Dadaku yang siap tayang di bioskop pada 11 Juni mendatang.

Proyek ini menjadi ajang pembuktian bahwa sineas lokal mampu meracik animasi berkualitas dunia dengan kedekatan budaya khas Nusantara.

Diproduksi oleh BASE Entertainment dan KAWI Animation, serta ko-produksi dengan Robot Playground Media, film yang diproduseri Shanty Harmayn dan Aoura Lovenson Chandra ini bukan sekadar remake versi live-action tahun 2009.

Mengembangkan semesta cerita dengan sentuhan fantasi, animasinya berpusat pada Putra (Keanu Azka), bocah penderita asma yang mimpinya menjadi pesepak bola nyaris kandas sebelum menemukan jersei mistis.

Perjalanannya berubah ketika dia bertemu Gaga (Kristo Immanuel), burung Garuda ajaib, dan pelatih cilik tegas bernama Naya (Quinn Salman).

Bersama-sama, mereka membuktikan kemampuan dan melawan keraguan. Film ini turut menghadirkan Revalina S. Temat sebagai pengisi suara Dewi Garuda.

Keputusan Ronny menggarap proyek ini lahir dari idealisme yang sudah dipupuknya sejak lama. Pengalamannya bekerja di industri visual effects di Singapura selalu ia anggap sebagai masa persiapan untuk membangun animasi Indonesia.

Baca Juga: Animator Avengers Balik ke Indonesia, Garap Film Animasi Garuda di Dadaku

"Saya selalu menganggap dan memiliki pemikiran di kepala saya selama belasan tahun berkarier di luar itu adalah momen saya menimba ilmu. Dengan harapan dan sama seperti cerita dari film ini, saya juga punya mimpi," kata Ronny Gani saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa, 21 April 2026.

"Satu saat akan tiba waktunya penonton Indonesia menginginkan ada film Indonesia, dan pada saat itu, saya akan pulang. Saya akan bawa pulang ilmu dan pengalaman untuk kita bikin satu karya kolaboratif yang sangat relevan dan relatable buat penonton Indonesia," tambahnya.

Pemilihan Garuda di Dadaku sebagai proyek perdananya di Indonesia pun melalui proses diskusi matang dengan Shanty Harmayn selaku kreator kekayaan intelektual (IP) aslinya.

Bagi Ronny, IP ini sudah memiliki basis penggemar yang kuat, ditambah lagu temanya yang sudah melekat bagai anthem nasional. Namun, dia memberi syarat, yakni eksekusinya harus memberikan pengalaman yang jauh berbeda dari versi live-action.

"Kita membahas dan menyimpulkan bahwa format dan medium animasi ini harus lebih out of this world, harus lebih elevated dari reality. Harus lebih ekspresif, dari ide, dari komedi, dari storytelling, dari desain karakter. Makanya itu akhirnya muncul karakter seperti si Gaga," jelas Ronny

Gaga: Sang "Cabai Rawit" Pembawa Tawa

Karakter Gaga, seekor burung Garuda bertubuh mungil, diciptakan bukan sekadar sebagai pemanis layar. Menurut sang sutradara, Gaga harus memiliki emosi kompleks layaknya manusia agar penonton bisa berempati saat karakter tersebut marah, sedih, maupun bawel.

"Ibaratnya kita makan mi instan, Gaga tuh cabai rawitnya buat orang Indonesia," kelakar Ronny menganalogikan peran krusial karakter magis tersebut.

Tugas berat menghidupkan Gaga diserahkan kepada konten kreator dan aktor, Kristo Immanuel. Meski kerap viral lewat konten impersonate suara, ini adalah proyek film animasi panjang pertamanya.

Salah satu pemain film Garuda di Dadaku Animasi, Kristo Immanuel saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa, 21 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana].

Uniknya, di saat desain visual Gaga terlihat sangat imut, Kristo justru mengusulkan warna suara yang berkebalikan.

"Mencari titik sweet spot-nya itu cukup PR. Gimana caranya bisa membuat suara karakter Gaga ini konsisten dan memiliki warna suara yang sama saat dia marah, saat dia sedih, saat dia bahagia, itu tuh nggak pas bahagia tiba-tiba jadi (suara asli) Kristo," jelas Kristo.

"Kalau aku pribadi ngerasa yang bagus adalah yang distingtif, orang pas dengar langsung tahu, 'Oh suaranya Gaga nih'. Kayak kita kalau dengar suaranya Olaf ngomong kan tahu," lanjut dia.

Quinn Salman Belajar Istilah Bola dari Adik

Tantangan tak kalah besar dihadapi oleh penyanyi dan aktris cilik Quinn Salman. Terbiasa memerankan karakter yang lembut, Quinn dituntut bersuara lantang, tegas, dan powerful untuk memerankan sosok Naya sang pelatih cilik.

"Karakter aku sebelumnya tuh kan lebih soft-spoken, lebih halus, bahkan pas casting-nya itu aku cuma giggling-giggling doang. Kalau di sini aku emang harus suaranya tuh kuat, powerful, harus lantang. Karena suara aku tuh yang membuat nanti teman-teman yang aku latih jadi semangat lagi," papar Quinn.

Salah satu pemain film Garuda di Dadaku Animasi, Quinn Salman saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa, 21 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana].

Lebih dari sekadar berdialog, proses rekaman menuntut Quinn untuk melakukan effort sounds (suara napas atau tekanan fisik) layaknya orang yang sedang kelelahan atau menendang bola.

Dia bahkan harus rutin melakukan pemanasan vokal sejak dari mobil agar tidak kehilangan suara saat harus banyak mengambil adegan berteriak.

Untungnya, jam terbang sebagai penyanyi membantunya mengatur napas agar pita suaranya tidak cepat habis saat harus berteriak lama di ruang rekaman.

Lucunya, Quinn yang sama sekali tidak paham seluk-beluk sepak bola harus berguru pada adik kandungnya sendiri. Sang adik kebetulan adalah penggemar fanatik yang sudah menonton Garuda di Dadaku versi live-action hingga belasan kali.

"Aku bukan orang yang ngerti banget bola, tapi adik aku pencinta film Garuda di Dadaku. Dia nonton 10 kali di rumah. Ada hari di mana dia ngajarin aku, 'Ini tuh maksudnya passing tuh ini'. Jadi sebenarnya Naya tuh punya coach lagi, yaitu adik aku sendiri," kenang Quinn sambil tertawa.

Tantangan Rekaman Solo dan Pesan Lintas Generasi

Bagi para cast, proses rekaman suara yang dilakukan sendiri-sendiri tanpa lawan main secara fisik (solo recording) menjadi ujian imajinasi tersendiri. Namun, Kristo menanggapi tantangan tersebut dengan santai sebagai bentuk profesionalitas aktor.

"Kayak misalnya seorang aktris perempuan belum punya anak, terus memerankan jadi seorang ibu, kan dia nggak harus jadi ibu dulu. Memang itulah tugas seorang aktor untuk menjalani PR-PR-nya. Sama, aku juga enggak harus jadi burung dulu untuk menjadi Gaga. We're just doing our job," tegas Kristo .

Untuk memastikan komedi dalam film tidak terasa "garing" atau cringe bagi penonton anak-anak hingga Gen Z, Ronny Gani dan tim rutin mengadakan Focus Group Discussion (FGD) sejak tahap penulisan naskah.

Hal ini krusial untuk menyelaraskan jokes dan gaya penceritaan yang relevan dengan karakteristik audiens masa kini.

Mengusung tiga kata kunci untuk menggambarkan filmnya, Mimpi, Teman, dan Kocak, film ini dibidik untuk memikat lintas generasi.

Ada sentuhan nostalgia yang kuat bagi penonton live-action terdahulu, sekaligus menyajikan petualangan segar untuk anak-anak era sekarang.

Lebih dari sekadar urusan olahraga, Ronny menaruh asa besar pada pesan moral yang dibawa lewat animasi ini.

"Kami harapkan setelah (penonton) keluar dari bioskop, mereka yang punya passion, mimpi, dan cita-cita di bidang apapun, mau jadi animator, penyanyi, pesulap bahkan, menjadi terinspirasi. Bahwa saya harus berani bermimpi, dan saat ada kendala, saya akan bersama teman-teman dan keluarga menghadapinya bersama," pungkasnya.

Load More