- Rayen Pono menggelar nonton bareng film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono di Pamulang pada 15 Mei 2026.
- Film tersebut mengungkap proyek pemerintah membabat 2,5 juta hektar hutan Papua untuk kepentingan industri biodiesel dan bioetanol.
- Pembabatan hutan berdampak pada hilangnya tempat tinggal, sumber makanan, serta mata pencaharian utama bagi masyarakat adat Papua.
Suara.com - Musisi Rayen Pono menggelar acara nonton bareng film dokumenter, Pesta Babi.
Usai menyaksikan film garapan Dandhy Laksono, Rayen merasakan dilema yang sangat mendalam.
Dilema tersebut merupakan perasaan bersalah tapi juga bercampur kesedihan.
Rayen Pono bahkan sampai habis kata-kata untuk mewakili perasaan tersebut.
"Rasa bersalah, gue sebagai warga masyarakat di Jawa di kota besar gitu yang yang secara tidak langsung menjadi market, daripada apa yang sedang dibangun di sana," kata Rayen Pono ditemui di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan pada Jumat, 15 Mei 2026.
Sebab film tersebut memperlihatkan proyek mega pemerintah yang membabat 2,5 juta hektar hutan Papua.
Tujuannya untuk menanam kelapa sawit untuk biodiesel dan tebu untuk bioetanol yang menjadi bahan bakar.
Imbas dari pembabatan tersebut, hutan di tanah Papua hilang.
Masyarakat di sana pun kehilangan rumah, sumber makanan, serta mata pencaharian.
Baca Juga: Film Pesta Babi: Hutan Mereka Diambil, Seolah Papua adalah Tanah Tak Bertuan
"Ketika nonton film ini ternyata kita jadi tahu. Mereka kehilangan rumah, habitat,pekerjaan," ucap Rayen Pono.
Belum lagi fakta bahwa tanah satu hektar di Papua hanya seharga Rp 300.000.
Bagaimana orang-orang bertahan di sana dengan uang tersebut sementara mereka kehilangan sumber pendapatan utama.
"Saya yakin orang yang menetapkan harga itu orang yang sudah enggak punya rasa kemanusiaan," kata personel Pasto ini.
Rayen menilai kondisi tersebut sudah sangat keterlaluan.
Baginya, pemaksaan terhadap hak-hak warga adat sudah masuk ke dalam kategori yang sangat ekstrem.
Berita Terkait
-
Film Pesta Babi: Hutan Mereka Diambil, Seolah Papua adalah Tanah Tak Bertuan
-
'Pesta Para Babi Pembangunan': Lagu Hip-Hop dari Pari Kesit yang Bikin Penguasa Kepanasan
-
'Pesta Babi' Ungkap Realitas Kelam, Kader PDIP: Jika Film Itu Tidak Bagus, Sediakan Ruang Debat
-
Mengapa Aparat Takut dengan Film 'Pesta Babi? Dokumenter yang Menguak Sisi Gelap Proyek di Papua
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Fakta Syekh Ahmad Al Misry Terungkap: Cuma Penerjemah dan Tinggal Menumpang di Rumah Mertua
-
Juicy Luicy Rilis 'Gurun Hujan', Lagu Buat Kamu yang Menanti Pertemuan Tak Pasti
-
Film Pesta Babi: Hutan Mereka Diambil, Seolah Papua adalah Tanah Tak Bertuan
-
'Pesta Para Babi Pembangunan': Lagu Hip-Hop dari Pari Kesit yang Bikin Penguasa Kepanasan
-
Jadi Penutup Tur Asia, Ini Prediksi Daftar Lagu Konser ONE OK ROCK di Indonesia Arena Hari Ini!
-
Perbedaan Mencolok Film Joker dan Sekuelnya, Keduanya Lagi Tayang di Netflix
-
BABYMONSTER Resmi Umumkan Konser di Jakarta Oktober 2026, Catat Tanggal War Tiketnya
-
Review Children of Heaven Versi Indonesia: Melokal dan Lebih Segar Berkat Peran Komika
-
Tolak Kebiri Kiai Ashari, Sikap Komnas Perempuan Tuai Amarah Publik: Korban di Mana?
-
Dikritik Soal Artikulasi, Mahalini Akhirnya Bongkar Alasan di Balik Gaya Bernyanyinya