- Film dokumenter "Pesta Babi" karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale merekam perlawanan masyarakat adat Papua terhadap eksploitasi lahan.
- Aparat melakukan 21 kali intimidasi terhadap pemutaran film tersebut di berbagai wilayah Indonesia dengan dalih administratif sensor.
- Kader PDI-P mengkritik pembubaran film dan mendesak pemerintah mengevaluasi dampak sosial pembangunan serta kebijakan eksploitasi di Papua.
Suara.com - Film dokumenter terbaru garapan Dandhy Laksono dan Cypri Dale, "Pesta Babi", mendadak jadi buah bibir. Bukan sekadar sinema, film ini menjadi rekaman visual perlawanan masyarakat adat Marind, Yei, Awvu, dan Muvu di selatan Papua melawan raksasa proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu.
Namun, keberanian mengungkap realita ini harus dibayar mahal. Laporan WatchdoC mencatat, hingga saat ini telah terjadi 21 kali intimidasi terhadap pemutaran film tersebut di berbagai wilayah Indonesia. Sebuah ironi di tengah narasi demokrasi yang kerap digaungkan.
Wakil Ketua Politik dan Reformasi Sistem Hukum Nasional DPC PDI-P Kabupaten Blitar, Triwiyono Susilo, melontarkan kritik pedas terkait aksi penjagalan pemutaran film ini oleh aparat.
"Apa yang ditakutkan dari film ini?" ujarnya dalam sebuah podcast yang digelar secara daring dan luring, Jumat (15/5/2026).
Triwiyono menyoroti alasan klasik aparat yang kerap menggunakan dalih 'belum lulus sensor' untuk membubarkan nonton bareng.
Menurutnya, hak cipta film tersebut sepenuhnya milik Dandhy Laksono dan tidak sepatutnya dihambat oleh urusan administratif sensor yang represif.
Menariknya, ia menilai "Pesta Babi" justru selaras dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto mengenai swasembada pangan dan energi.
Namun, ia memberi catatan kritis: cita-cita besar tersebut butuh evaluasi lapangan yang jujur.
"Cita-cita Presiden itu bisa dipercaya oleh rakyat, namun perlu ada evaluasi dari program-program yang ditetapkan sebagai pertanggungjawaban," tambahnya.
Baca Juga: Utang Indonesia Hampir Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya: Masih Aman, Harusnya Anda Puji Kita
Paradoks 'Kemajuan' vs Eksploitasi
Senada dengan Triwiyono, kader muda PDI-P, Shohibul Kafi, membedah intimidasi tersebut dari kacamata benturan narasi.
Baginya, apa yang ditampilkan Dandhy Laksono adalah kebenaran pahit yang bertolak belakang dengan jargon kesejahteraan yang selama ini dijual pemerintah tentang Papua.
"Negara mengeksploitasi dengan kata 'kemajuan', namun di sisi yang lain, negara ingin melakukan eksploitasi besar-besaran," tegas Kafi.
Ia melihat ada "perang persepsi" yang sengit antara negara dan rakyat. Melalui film ini, Kafi mengajak penegak hukum dan masyarakat luas untuk mulai membangun kesadaran nasional yang berbasis pada ekologi, kemanusiaan, dan kearifan lokal dalam merumuskan kebijakan politik.
Sementara itu, Novie Bule, kader muda PDI-P lainnya, mengingatkan bahwa publik tidak boleh menutup mata terhadap kondisi di Bumi Cendrawasih.
Berita Terkait
-
Siapa Aktor Di Balik Pembubaran Nobar Film Pesta Babi?
-
Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Klaim Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Tumbuh 5,61%
-
Film Pesta Babi tentang Apa? Tuai Kontroversi hingga Pembubaran Acara Nobar
-
Tembus Rp17.600, BI Dikabarkan Mulai Kehabisan Amunisi Kuatkan Rupiah
-
Utang Indonesia Hampir Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya: Masih Aman, Harusnya Anda Puji Kita
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Tak Sembarang Orang Bisa Beli, Begini Alur Distribusi Narkoba 'VIP Only' di B Fashion Hotel
-
Nasib Ahmad Syahri Merokok dan Main Game Saat Rapat, Terancam Dipecat dari DPRD Jember?
-
Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
-
Nasib Santri Ponpes Pati Usai Geger Kasus Pelecehan, Sekolah Tetap Lanjut atau Pindah?
-
Polda Metro Jaya Bentuk Tim Pemburu Begal, Kombes Iman: Kami Siap Beraksi 24 Jam!
-
Kepulauan Seribu Diserbu Wisatawan Saat Liburan, Polres Sebar Polisi di Tiap Dermaga
-
Kedubes Jepang Warning Warganya: Nekat Prostitusi Anak di RI, Siap-siap Dibui di Dua Negara
-
Polisi Ciduk Komplotan Jambret di Tamansari, Uang Hasil Kejahatan Dipakai Buat Pesta Sabu
-
Sebut Prabowo Anggap Gagasannya Suci, Sobary: Oh Paus Saja Ndak Begitu Bung!
-
Tak Ada Ampun! Hanya 6 Hari Pasca Penggerebekan, Pemprov DKI Sikat Habis Izin B Fashion Hotel