- Tradisi Makan Batalam Bekipas Pangeran di Banua Lawas, Tabalong, Kalimantan Selatan, menuai perdebatan warganet di media sosial.
- Sejumlah warganet mengkritik tradisi tersebut karena dianggap feodalisme, sementara lainnya menilai kegiatan itu sebagai bentuk adab.
- Pemerintah Kabupaten Tabalong menjelaskan bahwa tradisi tersebut adalah warisan budaya ratusan tahun yang telah diakui Kementerian Kebudayaan RI.
Suara.com - Tradisi Makan Batalam Bekipas Pangeran dalam peringatan Maulid Nabi di Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, mendadak menjadi sorotan di media sosial.
Video yang memperlihatkan sejumlah tamu makan bersama dalam satu talam, sementara beberapa orang menggunakan kipas tangan untuk mengipasi tamu, memicu beragam komentar dari warganet.
Sebagian pengguna media sosial mempertanyakan tradisi tersebut.
Bahkan, ada yang mengaitkannya dengan praktik feodalisme dan mempertanyakan alasan tradisi tersebut masih dipertahankan.
“Ini bentuk feodalisme kok dilestarikan,” tulis seorang netizen dalam kolom komentar.
Komentar lain menyindir orang-orang yang bertugas mengipasi para tamu. “Lagi kipasin istri para pencuri uang negara,” tulis akun lain.
Ada pula warganet yang mempertanyakan fungsi kipas tangan tersebut di tengah kemajuan teknologi.
“Ada namanya alat elektronik, kipas angin, tinggal colok ke listrik,” tulis seorang pengguna.
Komentar bernada sindiran juga muncul terkait posisi orang yang mengipasi tamu.
“Berapa gaji ngipansin keluarga para pejabat?” tulis pengguna lainnya.
Namun, tidak semua komentar bernada kritik.
Sebagian warganet menganggap aktivitas tersebut merupakan bagian dari tata krama dalam tradisi setempat.
“Itu namanya adab ya teman-teman, kalian tidak menghormati yang tua?” tulis seorang pengguna.
Akun Pemkab Tabalong Jelaskan Makna Tradisi
Di tengah ramainya perdebatan, akun resmi publikasi kegiatan kepala daerah Kabupaten Tabalong memberikan penjelasan mengenai tradisi tersebut.