Joane Win hingga Maudy Koesnaedi Hidupkan Kisah Perjuangan Njonja Ati Soetji di Panggung Teater

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 12:32 WIB
Joanne Win hingga Maudy Koesnaedi Hidupkan Kisah Perjuangan Nyonya Ati Soetji di Panggung Teater [Istimewa]
BACA 10 DETIK
  • Pertunjukan teater berjudul Njonja Ati Soetji akan digelar di Ciputra Artpreneur Jakarta pada akhir Oktober 2026.
  • Lakon tersebut menceritakan kisah nyata Aw Tjoei Lan dalam memberantas perdagangan manusia di Indonesia sekitar tahun 1930-an.
  • Pementasan ini melibatkan sejumlah aktris ternama seperti Joane Win, Maudy Koesnaedi, dan Tika Bravani untuk menyampaikan pesan kemanusiaan.

Suara.com - Kisah perjuangan perempuan Indonesia keturunan Tionghoa dalam melawan perdagangan manusia di era Hindia Belanda diangkat ke atas panggung melalui pertunjukan teater bertajuk Njonja Ati Soetji.

Pementasan ini dijadwalkan berlangsung di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada 30 dan 31 Oktober 2026.

Lakon tersebut mengangkat kisah nyata Ibu Aw Tjoei Lan, sosok yang dikenal atas perjuangannya memberantas praktik perdagangan perempuan dan anak gadis serta jaringan mucikari sekitar tahun 1930-an.

Aktris Joane Win dipercaya memerankan karakter Njonja Aw Tjoei Lan atau Njonja Ati Soetji. Ia mengatakan, gagasan pementasan ini berawal dari perayaan 100 tahun Yayasan Hati Suci.

Dari momentum tersebut, muncul keinginan untuk memperkenalkan kembali sosok Aw Tjoei Lan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurut Joane, masih banyak anak muda yang belum mengenal kontribusi tokoh-tokoh Indonesia keturunan Tionghoa dalam sejarah perjuangan kemanusiaan di Tanah Air.

"Generasi muda zaman sekarang juga harus tahu bahwa mereka juga mempunyai pahlawan Indonesia keturunan Tionghoa yang juga banyak jasanya kepada Indonesia, khususnya dalam kasus perdagangan manusia," ujar Joane Win dalam pernyataannya.

Untuk membangun karakter yang diperankannya, Joane bersama tim produksi melakukan riset dengan menelusuri dokumen-dokumen berbahasa Belanda.

Mereka juga mewawancarai salah satu cucu mendiang Njonja Aw guna mendapatkan gambaran mengenai kehidupan sehari-hari, kepribadian, hingga gaya bicara tokoh tersebut.

Selain Joane, pementasan ini turut menghadirkan Maudy Koesnaedi yang memerankan Sayap Hitam, karakter antagonis fiktif. Peran tersebut menjadi pengalaman baru bagi Maudy selama berkarier di dunia seni peran.

"Baru pertama kali ini dikasih kepercayaan mendapatkan peran antagonis dan aku menikmati sekali," ungkap Maudy.

Ia juga mengaku harus beradaptasi dengan sejumlah detail kostum dan gerakan panggung, termasuk penggunaan kuku panjang yang menjadi bagian dari penampilannya.

"Tantangannya ini melakukan gerakan-gerakan dengan kuku panjang itu ternyata ribet ya, sulit gitu lho, mau copot, mau jatuh," tambahnya sambil tertawa.

Di balik karakter antagonis yang dimainkan, Maudy melihat cerita tersebut membawa pesan tentang pentingnya hati nurani dan akal budi dalam mengambil keputusan.

"Ketika kita menjadi manusia kita harus punya hati nurani dan akal budi, supaya kita bisa mempertanggungjawabkan keputusan-keputusan apa yang kita ambil di dalam hidup kita. Karena tanpa adanya hati nurani dan akal budi kalau cuma dijawab berdasarkan pernyataan dan argumentasi, itu bisa aja jadi semua benar," pesannya.

Sementara itu, Tika Bravani turut bergabung sebagai Nona Nevel, staf pengajar di panti asuhan yang memiliki kepedulian terhadap anak-anak korban perdagangan manusia.

Melalui kisah sejarah dan konflik kemanusiaan yang diangkat, Njonja Ati Soetji diharapkan dapat mengenalkan kembali perjuangan Aw Tjoei Lan kepada penonton lintas generasi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com