Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra

Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:35 WIB
Desainer Vivi Mar'i Zubedi ditemui usai acara IN2MF di Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (18/10/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
BACA 10 DETIK
  • Tren downgrade lifestyle mendorong konsumen lebih selektif berbelanja, termasuk produk fashion.
  • Vivi Zubedi merespons tren tersebut dengan menghadirkan produk terjangkau dan penawaran bundling agar konsumen mendapat nilai lebih.
  • Strategi ini bertujuan mempertahankan loyalitas pelanggan, menarik konsumen baru, sekaligus menjaga keberlangsungan pekerja di balik produksi VIVIZUBEDI.

Suara.com - Tren downgrade lifestyle membuat konsumen semakin selektif dalam membelanjakan uang, termasuk untuk kebutuhan fashion.

Menghadapi tren ini, Vivi Mar'i Zubedi alias Vivi Zubedi memilih membuat produk lebih terjangkau dan menerapkan strategi untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.

Founder sekaligus desainer brand fashion VIVIZUBEDI itu mengatakan ia beberapa kali menggabungkan dua produk menjadi satu penawaran agar konsumen mendapatkan nilai lebih dari pembelian mereka.

"Ya kita bikin produk-produk yang affordable, bahkan kadang-kadang saya menyatukan dua produk menjadi satu. So you buy one, you can get one," ujar Vivi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Penawaran ini juga diterapkan Vivi untuk mencari konsumen baru. Dengan cara ini, ia berharap tetap bisa menghidupi orang-orang yang terlibat di balik proses produksi.

Desainer Vivi Mar'i Zubedi ditemui usai acara IN2MF di Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (18/10/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

"Ya sebenarnya itu salah satu usaha kita untuk tetap merangkul konsumen, untuk tetap menjadi konsumen yang loyal, sembari tetap menghidupkan orang-orang di belakang kita," tuturnya.

Adapun downgrade lifestyle adalah penurunan standar gaya hidup atau penyesuaian pola konsumsi menjadi lebih hemat dibandingkan sebelumnya, seperti beralih ke barang dengan harga lebih terjangkau atau memangkas pengeluaran untuk kebutuhan yang tidak mendesak.

Di sisi lain, Vivi mengaku sejauh ini penjualan produknya masih relatif stabil. Ia menilai kondisi pasar yang naik turun merupakan hal lumrah dalam menjalankan bisnis, sehingga pelaku industri perlu beradaptasi dengan situasi ekonomi.

"Untuk penjualan kita alhamdulillah sebenarnya tetap. Saya pikir market naik turun itu biasa. Keadaan ekonomi kita stabil, enggak stabil itu kan dalam sebuah negara biasa," ujar Vivi.

Namun, ia berharap kondisi ekonomi dapat segera pulih dan tren downgrade lifestyle tidak berlangsung lama. Meski demikian, ia menilai pelaku usaha perlu tetap menyesuaikan strategi bisnis dengan kebutuhan pasar.

Selain itu, Vivi juga menerapkan strategi dengan membedakan produk retail dan karya yang menggunakan wastra lokal.

Ia mengatakan eksplorasi kain tradisional Indonesia lebih dipandang sebagai bentuk persembahan untuk Tanah Air, bukan semata-mata sebagai strategi penjualan.

"Kebetulan kalau VIVIZUBEDI, wastra lokal itu bukan dijadikan untuk sales ya. Tapi lebih ke karya yang dipersembahkan untuk negara, untuk Indonesia," ujarnya.

Menurutnya, kain daerah memiliki keterbatasan volume sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan ketersediaan material.

Wastra lokal juga memiliki keterbatasan untuk diproduksi dalam jumlah besar dan biasanya digunakan untuk kebutuhan atau acara tertentu.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com