Suara.com - Apa yang selama ini Anda pikirkan tentang bakteri? Pasti membayangkan makhluk kecil yang menjijikkan, bukan?
Tentunya selama ini kita berusaha menjaga kebersihan badan dan lingkungan agar terhindar dari bakteri penyebab penyakit. Tapi tahukah Anda jika kekurangan bakteri juga tak baik untuk kesehatan Anda.
Penelitian baru-baru ini yang dilakukan Cornell University menemukam bahwa kurangnya bakteri dalam usus bisa menyebabkan kegemukan pada seseorang.
Peneliti telah mengidentifikasi sekumpulan mikroba yang disebut Christensenellaceae. Mikroba ini ternyata yang selama ini membantu tubuh Anda tetap ramping. Jumlah bakteri jenis ini di dalam tubuh ditentukan sifat genetik (keturunan).
Hasil penelitian ini didukung oleh percobaan sebelumnya terhadap seekor tikus yang disuntikan bakteri Christensenellaceae, alhasil tikus itu tidak mengalami pertambahan berat badan dibandingkan tikus lain.
Memang sudah banyak beberapa studi yang meneliti pengaruh bakteri terhadap kesehatan manusia, dan pengaruhnya terhadap berat badan. Ada spekulasi yang berkembang bahwa peningkatan tingkat obesitas disebabkan semakin meningkatnya penggunaan antibiotik, yang dapat memusnahkan bakteri, dimana bakteri itu membantu manusia mengubah makanan menjadi energi secara efesien.
Bakteri itu jumlahnya sangat banyak di dalam tubuh yang tersebar di berbagai tempat. Kira-kira jumahnya sekitar 100 Triliun yang melebihi sepuluh kali lipat jumlah sel manusia.
Letak bakteri itu ada di setiap inchi kulit, mulut, hidung, telinga, alat kelamin dan terutama sistem pencernaan kita. Selain berfungsi mencerna makanan, bakteri juga menghasilkan vitamin dan bahan kimia yang membantu mengatur sistem kekebalan tubuh, metabolisme, bahkan suasana hati.
Meski bakteri dikenal sebagai penyebab munculnya berbagai penyakit, namun semakin berkembangnya zaman, bakteri ternyata sangat berperan dalam kesehatan manusia. Termasuk dalam hal obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, kolestreol abnormal, lemak perut, kanker, dan aterosklerosis, atau plak penumpukan di arteri.
Bidang ini berkembang pesat karena para ilmuwan sekarang dapat mengidentifikasi dan menghitung bakteri lebih mudah, dengan menggunakan analisis gen, tinja, air liur, dan sampel lainnya. Dengan cara itu, mempermudah penekiti dalam mendapatkan informasi tentang bagaimana kompleksitas dan komunitas bakteri manusia yang berbeda.
Martin Blaser seorang ahli mikrobiologi di New York University, menyatakan: "Telah puluhan tahun lalu bakteri diketahui dapat menyebabkan kegemukan pada hewan ternak, sehingga pemakaian antibiotik digunakan untuk menurunkan berat badan hewan agar tetap sehat".
Perkembangan antibiotik, sabun antibakteri dan produk lainnya tidak hanya menciptakan dampak positif, tapi hal itu dapat mengurangi populasi bakteri yang bermanfaat banyak untuk manusia, Dr. Blaser menulis dalam bukunya, "Missing Microbes". (Medical Daily)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial