Suara.com - Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 1 Januari mendatang genap setahun beroperasi di Indonesia.
Lalu, bagaimana penilaian sejumlah pihak terkait dengan pelayanan yang diberikan BPJS dalam upaya menjamim kesehatan masyarakat Indonesia?
Menurut hasil jajak pendapat yang dilakukan Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (PKEKK FKM UI) menunjukkan bahwa layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 2014 masih belum maksimal dan diwarnai dengan rapor kuning.
Untuk mengevaluasi kinerja program JKN yang diselenggarakan BPJS, PKEKK FKM UI melibatkan 681 responden di 20 provinsi dengan menanyakan tingkat kepuasan dan kepercayaan mereka terhadap BPJS. Untuk jumlah kepesertaan, memang cukup memuaskan.
Sekitar 49 persen responden telah menjadi peserta dari BPJS. Sayangnya tingginya minat masyarakat menjadi peserta BPJS tidak dibarengi dengan kepuasan terhadap pelayanan fasilitas kesehatan yang mereka dapatkan.
Dari 43 persen responden yang telah menggunakan layanan BPJS untuk berobat hanya 44 persen yang puas dengan layanan dokter. Sedangkan yang merasa puas dengan layanan Rumah Sakit yang bekerja sama dengan BPJS hanya 54 persen.
Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (PKEKK FKM UI), Prof Dr Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH, menjelaskan bahwa ketidakpuasan masyarakat yang diwakili oleh responden ini paling utama disebabkan layanan rumah sakit yang menurun ketika dikelola BPJS.
"Hal ini mungkin disebabkan oleh layanan rumah sakit ketika masih dikelola Askes dinilai lebih baik dibandingkan ketika dikelola BPJS," ujarnya pada acara Evaluasi Akhir Tahun JKN dan Prospeknya di 2015 di Jakarta, Kamis (18/12/2014).
Lebih lanjut, ia menambahkan, bahwa rendahnya tingkat kepuasan peserta soal JKN bisa menjadi bumerang terhadap kelangsungan BPJS di masa mendatang. Terlebih saat deadline untuk para Pekerja Penerima Upah (PPU) pegawai swasta tinggal menunggu hari.
Keluhan akan pelayanan dan peraturan yang ditetapkan oleh lembaga yang bertanggung jawab langsung kepada presiden ini, diperkirakan akan semakin meningkat.
Akan tetapi, menurut Prof Hasbullah, ketidakpuasan para peserta Jaminan Kesehatan Nasional ini tidak terlepas dari rendahnya tarif sebagian bayaran kapitasi dan CBG ke rumah sakit provider yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
"Rumah sakit tentunya juga membutuhkan profit untuk keberlangsungan operasionalnya. Ketidakseimbangan penetapan tarif CBG dan distribusi dana klaim yang bermasalah merupakan pemicu buruknya pelayanan kesehatan RS yang bekerja sama dengan BPJS," jelasnya.
Di samping itu, lanjut dia, pembayaran JKN diwarnai ketidakseimbangan penetapan tarif CBG dan pemberian insentif pada rumah sakit besar, distribusi dana klaim yang bermasalah di tingkat daerah dan penetapan iuran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi