Suara.com - Thalassaemia adalah penyakit kelainan sel darah merah yang disebabkan berkurang atau tidak dibentuknya bahan pembentuk hemoglobin, yang berakibat sel darah merah mudah pecah.
Penyakit ini diturunkan dari kedua orangtua dan bukanlah penyakit menular. Secara klinis, menurut Djumhana Atmakusuma, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari RSCM, Thalassaemia dibagi menjadi tiga, yakni Thalassaemia minor di mana tidak bergejala, tidak membutuhkan transfusi darah, dan hidup seperti orang normal.
Sementara yang kedua adalah Thalassaemia intermedia, di mana memiliki gejala ringan dan membutuhkan transfusi darah, namun tidak rutin. Sedangkan yang terakhir adalah Thalassaemia mayor di mana secara kasat mata anak-anak dengan Thalassaemia mayor akan tampak pucat, lesu, kuning, kadang disertai perut yang membesar.
"Yang kelihatan itu Thalassaemia mayor, selain pucat, penyandang Thalassaemia itu pertumbuhannya terganggu, pendek, muka dan beberapa bagian tubuhnya hitam, bentuk mukanya nggak simetris," jelasnya dalam acara bincang-bincang "SEHATi Bicara Thalassaemia: Kenali dengan Diagnosa Dini untuk Cegah Komplikasi dan Bahaya lain" di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Djumhana menambahkan, selain gejala di atas, thalassaemia biasanya juga disertai dengan perut yang membesar. Hal ini terjadi, kata dia, karena untuk memenuhi kebutuhan sel darah merah yang kurang, organ-organ tubuh harus bekerja lebih lebih keras sehingga terjadi pembesaran hati dan limpa.
"Bayi dengan Thalassaemia mayor itu normal saat baru dilahirkan. Nah antara usia tiga hingga 18 bulan biasanya Hbnya rendah sekitar 6-7, pucat. Ini perlu dilakukan skrining. Kalau positif Thalassaemia mayor, kedua orangtuanya dipastikan menderita Thalassaemia minor," jelasnya.
Apabila tidak segera diberi perawatan dengan benar, anak dengan Thalassaemia mayor, kata dia, biasanya akan hidup hanya antara satu sampai delapan tahun.
Namun jika telah dilakukan transfusi darah sejak dinyatakan positif, penyandang Thalassaemia mayor akan bertahan hingga 20-25 tahun.
Hingga saat ini, Thalassaemia mayor belum dapat disembuhkan. Pengobatan satu-satunya dengan melakukan transfusi darah rutin, rata-rata sebulan sekali, untuk seumur hidupnya disertai dengan obat-obatan tertentu.
Tag
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
Terkini
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari