Suara.com - Rabu (6/1/2016) malam lalu, Wayan Mirna Salihin (27) meninggal usai menyeruput kopi Vietnam di kafe Olivier, Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat.
Belakangan hasil temuan Polda Metro Jaya mengungkap adanya jejak sianida pada tubuh Mirna.
Sianida sendiri merupakan zat beracun yang sangat mematikan. Efek yang ditimbulkan saat mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung zat ini sangat cepat, bahkan bisa mengakibatkan kematian dalam jangka waktu beberapa menit.
Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, mantan Kepala Balitbangkes yang kini bekerja untuk WHO, zat sianida yang sering digunakan adalah hidrogen sianida karena mudah bercampur dengan air.
"Hidrogen sianida sangat mudah masuk ke dalam saluran pencernaan, dan dalam dosis besar dapat sangat fatal akibatnya. Setelah terpapar, sianida langsung masuk ke dalam pembuluh darah," ujarnya dalam keterangan yang diterima Suara.com, Senin (11/1/2016).
Lebih lanjut ia menambahkan jika sianida yang masuk ke dalam tubuh masih dalam jumlah yang kecil maka zat tersebut akan diubah menjadi tiosianat yang lebih aman dan dikeluarkan dari tubuh melalui urin.
Sebaliknya, bila jumlah sianida yang masuk ke tubuh dalam dosis yang besar, tubuh tidak akan mampu untuk mengeluarkannya, dan timbul gejala keracunan.
"Keracunan sianida dapat berakibat buruk pada sistem kardiovaskuler, termasuk peningkatan resistensi vaskuler dan tekanan darah di dalam otak, sistem pernapasan dan sistem susunan saraf pusat," imbuhnya.
Sianida bisa memicu kematian jika mengikat bagian aktif dari enzim sitokrom oksidase yang memicu terhentinya metabolisme sel dan gangguan respirasi seluler.
Tanda awal dari keracunan sianida yang harus diperhatikan adalah peningkatan frekuensi pernapasan, nyeri kepala, sesak napas, perubahan perilaku seperti cemas, agitasi dan gelisah serta berkeringat banyak, warna kulit kemerahan, tubuh terasa lemah dan vertigo.
"Jika sudah menyerang susunan saraf pusat maka korban keracunan akan mengalami tremor, aritmia, kejang-kejang, koma, dan penekanan pada pusat pernafasan, gagal nafas sampai henti jantung dan akhirnya meninggal," kata Prof. Tjandra.
Namun di sisi lain, kata dia, sianida dalam dosis rendah juga dapat ditemukan di alam dan ada pada setiap produk yang biasa kita konsumsi.
"Sianida juga dapat diproduksi oleh bakteri, jamur dan ganggang. Selain itu terdapat pula dalam asap rokok misalnya, juga asap kendaraan bermotor, industri, pertambangan dan lain-lain," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin