Suara.com - Indonesia kaya keragaman kuliner. Namun jika Anda perhatikan, sebagian besar menu makanan Indonesia menggunakan karbohidrat sebagai bahan utamanya. Sebut saja nasi, lontong, bubur, mie, hingga beragam aneka jajanan pasar.
Kebiasaan yang telah turun temurun ini, menurut Pakar gizi dr Grace Judio Kahl, Msc, dapat memicu kecanduan karbohidrat atau dalam istilah medis disebut carbovore. Salah satu contohnya banyak orang merasa belum kenyang jika tidak ada nasi dalam menu makanannya.
"Saat mengonsumsi karbohidrat maka otak memproduksi hormon serotonin yang memberikan perasaan menenangkan dan menyenangkan, dan juga meningkatkan dopamin yang memberikan efek kecanduan," ujarnya pada temu media 'Jakarta Food Editor's Club' di Jakarta, belum lama ini.
Pada orang yang tergolong carbovore, kata Grace, dopamin tak lagi mudah diproduksi, sehingga seseorang akan terus-terusan mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, sampai membuatnya merasa puas.
"Semakin dia mengonsumsi makanan karbohidrat maka semakin rusaklah reseptor di otak yang memproduksi dopamin. Kalau orang normal makan dikit saja dopamin langsung diproduksi, tapi pada mereka yang tergolong carbovore, dopamin akan sulit diproduksi," imbuhnya.
Sayangnya kecanduan karbohidrat, kata dia, dapat memicu masalah lain, yakni obesitas, diabetes hingga peningkatan kolesterol jahat dalam tubuh.
"Kalau konsumsi gula atau tepung maka akan diubah menjadi gula darah. Kadar gula akan cepat naik dan cepat juga turunnya kalau kita mengonsumsi karbohidrat. Makanya setelah makan karbo, cepat kenyang tapi cepat juga laparnya," ujar Grace.
Cara menghentikan kecanduan karbohidrat, lanjut dia, bisa dilakukan dengan 'body scanning' atau refleksi diri, ketika menginginkan suatu makanan. Apakah makanan tersebut benar-benar dibutuhkan perut untuk mengatasi rasa lapar, atau hanya sekadar lapar mata.
"Latih tubuh untuk mengenali rasa kenyang dan lapar. Sebelum mengonsumsi makanan, coba tanya ke diri kita, apakah yang menginginkan otak, mata, hidung, mulut atau memang karena perut lapar. Indikator agar tak kecanduan adalah melihat kebutuhan perut," pungkas Grace.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien