Suara.com - Sekilas ketika melihat Annisa Octiandari Pertiwi, kita tidak akan menyangka dirinya merupakan pengidap thalassemia, yakni suatu kelainan sel darah merah yang disebabkan tidak terbentuknya protein pembentuk hemoglobin sehingga sel darah merah mudah pecah.
Perempuan kelahiran Oktober 1993 itu terdiagnosis mengidap thalassemia mayor delapan bulan setelah kelahirannya. Dengan kondisi tersebut, perempuan yang akrab disapa Nisa itu harus bertemankan jarum suntik dan transfusi darah setiap bulan.
"Orangtua kaget, anak sakit, selama beberapa minggu pucat, demam. Bawa ke dokter turun, naik lagi. Hingga dirujuk ke rumah sakit besar dan didiagnosis mengidap thalassemia mayor. Mereka syok," ujar Nisa pada temu media peringatan Hari Thalassemia Sedunia di Kementerian Kesehatan, Senin (8/5/2017).
Perempuan berusia 23 tahun ini tak ingat betul bagaimana kondisinya saat menjalani transfusi darah saat berusia belia. Yang dia tahu, dukungan dari keluarga terutama orangtua memecut dirinya untuk bangkit dan menjalani kehidupan seperti orang pada umumnya.
"Waktu saya SD sering transfusi. Saya mengalami perubahan bentuk wajah, perut jadi buncit, bahkan sering dikatain hamil, tapi saya tunjukkin saya bisa berprestasi," lanjut Nisa.
Di tengah penyakit yang dideritanya, Nisa tetap semangat berprestasi dengan meraih gelar sarjana Biologi dari Universitas Padjajaran Bandung, 2016 lalu. Begitu besar perjuangan orangtua Nisa agar anaknya mendapat izin dari kampus untuk menjalani transfusi darah sebulan sekali.
"Orangtua saya juga sering menghadap dosen dan kakak angkatan kalau saya mengidap thalassemia. Jadi memang saya merasakan jadi pengidap thalassemia mayor enggak mudah. Berat, tapi kalau ada bantuan dari orangtua, kita bisa melaluinya dengan baik," ujar perempuan asal Bogor ini.
Meski telah mendapatkan kelulusan, ada masalah lain yang harus dihadapi Nisa. Dia belum juga mendapatkan pekerjaan karena selalu tersandung dengan permohonan izin untuk transfusi darah setiap bulan.
"Ketika wawancara, perusahaan belum bisa menerima saya izin tidak hadir sekali dalam sebulan untuk transfusi darah," ungkap dia.
Sembari menunggu tawaran pekerjaan, Nisa kini sedang disibukkan dengan kegiatan Thalassemia Movement, sebuah komunitas yang didirikannya untuk menyebarkan informasi thalassemia kepada anak muda.
"Saya ingin masyarakat tahu bahwa thalassemia itu bukan penyakit menular dan dapat dicegah dengan skrining thalasemmia. Kegiatan kami lebih banyak di media sosial dan kampanye di offline," tambah dia.
Nisa beruntung, terlahir dari keluarga yang sangat mendukungnya untuk hidup normal dengan thalassemia. Namun, Nisa yakin bahwa masih banyak penderita thalasemmia lainnya yang kurang mendapat perhatian dan dikucilkan dalam pergaulan.
Nisa pun berharap, dengan adanya program nasional pengendalian thalassemia yang dihelat Kementerian Kesehatan, bisa meningkatkan kualitas hidup dirinya dan penyandang thalassemia lainnya di Indonesia.
"Sebagian besar penderita thalassemia tidak percaya diri. Mereka dikucilkan dan merasa buat apalagi hidup. Bahkan tak sedikit dari mereka yang putus sekolah. Semoga ini menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup kami," pungkas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
Terkini
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial