Suara.com - Pergi ke pantai memang sangat menyenangkan. Anda bisa nikmati deburan ombak, bermain pasir, berjemur di bawah sinar matahari, melihat indahnya matahari terbenam, atau berenang di laut.
Tapi tunggu dulu, jika Anda hobi berenang di laut, pastikan dulu diri Anda aman. Aman dari apa? Tenggelam? Bukan, aman dari masalah kesehatan yang bisa Anda alami setelah berenang di laut.
Lantas, empat risiko kesehatan tak terduga apa saja yang bisa dialami setelah berenang di laut? Simak ulasan yang dihimpun hellosehat.com.
1. Diare
Pernahkah Anda membayangkan mengalami diare setelah berenang di laut? Tentu tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Pasalnya, diare biasanya disebabkan oleh konsumsi makanan yang kurang bersih.
Nah, rupanya berenang di laut bisa menyebabkan Anda mengalami diare. Ketika Anda sengaja atau tidak sengaja menelan air laut yang tercemar oleh bakteri penyebab diare, Anda bisa kena diare.
Bakteri penyebab diare yang ada di laut antara lain Cryptosporidium, Giardia, Shigella, Norovirus, dan E. coli. Bakteri ini dapat ditularkan oleh seseorang yang sakit diare (atau sudah sakit dalam dua minggu terakhir) dan masuk ke dalam air laut untuk berenang.
Bakteri Cryptosporidum adalah bakteri paling umum yang menyebabkan diare setelah berenang. Bakteri ini dapat tetap hidup selama berhari-hari.
Menurut Mindy Benson, seorang perawat dan asisten profesor di Rumah Sakit Anak-anak UCSF Benioff di Amerika Serikat (AS), hewan yang ada di dalam air laut juga bisa menyebarkan kuman ini. Untuk memastikan Anda aman, pastikan Anda langsung mandi menggunakan sabun setelah berenang di laut.
Diare yang ditularkan melalui air bisa berlangsung dua sampai tiga minggu. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi serius, terkadang bahkan mengancam nyawa.
Jika Anda mengalami diare yang mengeluarkan darah atau yang berlangsung lima hari atau lebih disertai demam, segera periksakan diri ke dokter.
Mulut kering, bibir pecah-pecah, kulit yang memerah, sakit kepala, bingung, atau buang air kecil kurang dari empat kali sehari, juga memberi tanda bahwa Anda harus segera mendapat perawatan medis setelah berenang di laut.
2. Botulisme
Botulisme adalah kondisi keracunan serius yang disebabkan oleh racun yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum. Bakteri Clostridium botulinum bisa ditemukan di tanah, debu, sungai, serta dasar laut.
Bakteri ini sebenarnya tidak berbahaya dalam kondisi lingkungan normal. Namun, ketika kekurangan oksigen mereka akan melepaskan racunnya.
Bakteri Clostridium botulinum akan kekurangan oksigen saat berada dalam kaleng tertutup, botol, lumpur dan tanah yang tidak bergerak, atau di dalam tubuh manusia.
Racun yang dihasilkan bakteri ini menyerang sistem saraf seperti otak, tulang belakang, saraf lainnya, dan menyebabkan kelumpuhan otot. Kelumpuhan yang terjadi bisa menyerang otot-otot yang mengendalikan pernapasan. Ini bisa mematikan dan harus segera mendapatkan penanganan.
Bakteri ini biasanya bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan maupun melalui luka pada tubuh. Bakteri ini juga bisa disebarkan oleh hewan laut yang sudah mati.
Jadi, jangan memindahkan hewan mati yang Anda temukan di laut atau pantai dengan tangan. Sebaiknya Anda memanggil petugas penjaga pantai untuk memberitahu hal ini. Anda juga tidak boleh berenang jika ada banyak hewan yang mati atau mengapung di permukaan laut.
3. Infeksi telinga otitis ekterna
Otitis eksterna merupakan peradangan saluran telinga bagian luar (lubang telinga luar sampai gendang telinga). Gejala utamanya berupa bengkak, kemerahan, nyeri, dan seperti ada tekanan dari dalam telinga.
Selain gejala-gejala tersebut, otitis eksterna juga bisa menyebabkan gejala-gejala berikut ini.
1. Telinga gatal
2. Telinga berair
3. Kulit di sekitar saluran telinga luar tampak bersisik dan kadang disertai pengelupasan
4. Pendengaran berkurang akibat kulit menebal dan kering di dalam saluran telinga
5. Munculnya luka mirip jerawat kalau infeksi menyerang folikel rambut di dalam telinga
6. Nyeri yang disertai pembengkakan pada tenggorokan
Apabila Anda menderita otitis eksterna yang disertai munculnya “jerawat” pada saluran telinga, jangan dipencet karena dikhawatirkan bisa membuat infeksi menyebar.
Otitis eksterna biasanya disebabkan oleh bakteri. Jamur dan virus juga dapat menyebabkan penyakit ini. Pada umumnya, bakteri atau jamur ini menginfeksi bagian kulit lembut dari saluran telinga luar yang telah teriritasi oleh air.
Oleh karena itulah penyakit otitis eksterna sering disebut sebagai penyakit “telinga perenang”, karena kemungkinan besar terjadi setelah berenang di laut.
4. Seabather’s eruption
Pernah mendengar mengenai penyakit ini? Nama penyakit ini mungkin masih asing di telinga, namun mulai sekarang untuk Anda yang hobi berenang, hati-hati dengan penyakit ini.
Seabather’s eruption adalah kondisi ruam pada kulit yang disebabkan oleh larva yang hidup di laut. Larva yang menyebabkan seabather’s eruption adalah ubur-ubur thimble (Linuche unguiculata) dan anemon laut (Edwardsiella lineata).
Tidak lama setelah disengat oleh larva ini, biasanya perenang akan mengalami rasa tidak nyaman pada kulit dan beberapa menit setelahnya atau paling lama 12 jam, perenang akan mengalami kulit kemerahan yang disertai rasa gatal.
Anda juga bisa merasakan sakit kepala, mual, dan muntah. Ruam justru sering muncul pada bagian tubuh yang tertutup, hal ini karena larva bisa masuk ke dalam baju renang Anda. jika Anda merasakan gatal setelah berenang di laut, jangan menggaruknya. Menggaruk justru akan membuat ruam semakin parah.
Lepas baju renang Anda sesegera mungkin, jangan mandi di bawah pancuran dengan menggunakan baju renang, karena hal ini tidak akan membantu. Gunakan sabun mandi dan gosok secara perlahan ke seluruh tubuh Anda. Kalau kondisi tidak membaik, segera periksa ke dokter.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- 5 Mobil Diesel Bekas 7-Seater yang Nyaman dan Aman buat Jangka Panjang
- Senyaman Nmax Senilai BeAT dan Mio? Segini Harga Suzuki Burgman 125 Bekas
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
Pilihan
-
Rumus Keliling Lingkaran Lengkap dengan 3 Contoh Soal Praktis
-
Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
Terkini
-
Maia Estianty Gaungkan Ageing Gracefully, Ajak Dewasa Aktif Waspada Bahaya Cacar Api
-
Kolesterol Tinggi, Risiko Diam-Diam yang Bisa Berujung Stroke dan Serangan Jantung
-
Telapak Kaki Datar pada Anak, Normal atau Perlu Diperiksa?
-
4 Rekomendasi Minuman Diabetes untuk Konsumsi Harian, Mana yang Lebih Aman?
-
Apa Itu Food Genomics, Diet Berbasis DNA yang Lagi Tren
-
Bosan Liburan Gitu-Gitu Aja? Yuk, Ajak Si Kecil Jadi Peracik Teh Cilik!
-
Menkes Tegaskan Kusta Bukan Kutukan: Sulit Menular, Bisa Sembuh, Fatalitas Hampir Nol
-
Kabar Gembira! Kusta Akan Diskrining Gratis Bareng Cek Kesehatan Nasional, Ini Rencananya
-
Era Baru Dunia Medis: Operasi Jarak Jauh Kini Bukan Lagi Sekadar Imajinasi
-
Angka Kematian Bayi Masih Tinggi, Menkes Dorong Program MMS bagi Ibu Hamil