- Kemenkes menyarankan Ramadan dimanfaatkan untuk melatih pengurangan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).
- Latihan pengurangan konsumsi GGL, seperti gula dalam teh, dapat membentuk kebiasaan baru dalam satu bulan.
- Kemenkes menyoroti kenaikan obesitas nasional akibat kalori berlebih beberapa tahun terakhir.
Suara.com - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Siti Nadia Tarmizi menyarankan bulan Ramadan dimanfaatkan untuk melatih menurunkan kebiasan konsumsi gula, garam, lemak alias GGL.
Ia mencontohkan penurunkan konsumsi gula bisa dilatih dengan takaran saat minum teh saat buka puasa selama sebulan penuh.
"Kalau biasanya kita minum teh sebelum Ramadan itu satu sendok teh gula, selama bulan Ramadan, kan katanya kalau bulan ramadan berbuka dengan yang manis-manis. Bisa nggak kita sekarang minum tehnya seperempat aja gula pasirnya sebulan." ujar dr. Nadia dalam acara peringatan Hari Obesitas Sedunia di Jakarta pada 4 Maret 2026 lalu.
Menurut dr. Nadia jika latihan ini dilakukan secara rutin selama bulan Ramadan, maka akan membentuk satu kebiasaan baru di akhir bulan. Apalagi ada teori yang mengatakan jika kebiasaan baru bisa dibentuk dalam waktu 21 hari atau 3 minggu.
"Pasti nanti di ujung-ujung ramadan, kalau gulanya dikasih satu sendok teh penuh pasti kemanisan," lanjut dr. Nadia.
Tidak hanya gula, dr. Nadia juga menyarankan latihan pengurangan ini juga berlaku terhadap garam dan lemak. Cara ini juga menurutnya bisa bantu turunkan prevalensi obesitas nasional yang terus alami peningkatan.
Data Kemenkes menyebutkan angka obesitas naik dari dari 21,8 persen pada tahun 2018 menjadi 23,4 persen pada tahun 2023. Sedangkan obesitas adalah kondisi yang disebabkan konsumsi kalori yang berlebihan dalam jangka panjang.
Adapun makanan dan minuman tinggi kalori ini cenderung mengandung garam, gula, dan lemak yang berlebihan.
"Mumpung lagi puasa kita pakai kesempatan ini, karena kalau hari-hari biasa kan sulit," papar dr. Nadia saat lakukan kampanye dukatif #BatasiGGL bersama Nutrifood.
Baca Juga: Waktu Adalah Mata Uang Ramadan: Jangan Habiskan Hanya Untuk Menunggu Magrib!
Di sisi lain dr. Nadia tidak menampik kalau saat ini sebagian besar asupan kalori harian masyarakat masih berasal dari pangan olahan dan siap saji. Inilah pentingnya saat memilih pangan olahan untuk membaca informasi gizi pada kemasan.
"Di tengah gaya hidup modern, konsumsi pangan olahan tidak dapat dihindari. Namun, masyarakat perlu mampu mengenali informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, sehingga pangan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu mengurangi risiko obesitas," jelasnya.
Sementara itu Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana selaku pihak produsen juga mengingatkan masyarakat untuk tahu cara membaca informasi gizi pada kemasan. Dari mulai takaran saji, bahan allergen, hingga bahan tambahan pangan seperti mikronutrien yang terkandung di dalamnya.
"Jadi kalau di informasi gizi di kemasan ada tulisannya 3 kali takaran saji, berarti kandungan seperti garam, gula, lemak, vitamin, hingga protein yang terkandung harus dikalikan 3 kali. Lalu cek lagi apakah sesuai dengan kebutuhan harian kita, atau malah sudah berlebihan," kata Susan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter
-
Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya
-
AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi
-
Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi
-
Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?
-
Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar
-
Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker
-
Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat
-
Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat