Ilustrasi ibu sedang menenangkan bayinya yang menangis. (Shutterstock)
Suara.com - Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa kehamilan dapat mengubah struktur otak perempuan setidaknya selama dua tahun di area yang mengatur pemahaman pikiran, perasaan, kepercayaan dan niat orang lain.
Kini, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal PNASsuggests mengungkapkan bahwa otak ibu di seluruh dunia juga beradaptasi sehingga ibu dapat dengan cepat merespons tangisan bayi. Bahkan dikatakan bahwa respons otak mereka berbeda dengan perempuan yang tidak atau belum memiliki anak.
Periset dari National Institutes of Health mengamati perilaku 684 ibu yang memiliki bayi berusia sekitar 5 bulan di Amerika Utara dan Selatan, tiga negara di Eropa Barat, dua di sub-Sahara Afrika, satu di Timur Tengah dan dua di Asia Timur.
Ibu di semua tempat itu lebih mungkin daripada tidak untuk kemudian melakukan hal yang sama saat bayi mereka menangis. Mereka akan menjemput mereka, menahan mereka dan berbicara dengan mereka. Terkadang, meski jarang, mereka menunjukkan kasih sayang, dan mengalihkan perhatian mereka.
Para periset kemudian memantau otak ibu baru yang berasal dari Amerika Serikat dan ibu berpengalaman di China dan Italia. Peneliti menemukan bahwa pada kedua tingkat pengalaman, tanggapan ini terkait secara mendalam dengan sistem saraf pada tingkat yang biasanya terkait dengan naluri.
"Parental caregiving memadukan pembelajaran dan intuisi," tulis penulis dalam penelitian tersebut. "Beberapa aspek mengasuh anak dipelajari, seperti melalui budaya, tapi orangtua juga bergantung pada naluri mereka dalam perawatan."
Ketika ibu mendengar bayi mereka menangis, area otak yang diaktifkan adalah benda yang biasanya dikaitkan dengan niat untuk bergerak dan berbicara, dengan produksi ucapan dan dengan rangsangan pendengaran. Dengan kata lain, tangisan bayi memicu otak ibu untuk bergerak dan bersiap untuk berbicara, bahkan sebelum ibu-ibu itu harus memproses apa yang sedang terjadi dan apa yang perlu dilakukan.
"Kami telah melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa dalam 100 milidetik onset tangisan bayi, perempuan menunjukkan respons yang digerakkan oleh motor yang dikaitkan dengan gerakan lengan," kata Dr. Marc Bornstein, kepala penelitian anak dan keluarga di Institut Anak Nasional Kesehatan dan Pembangunan Manusia sekaligus penulis utama studi ini.
Apaka semua manusia menanggapi tangisan bay? Tidak terlalu. Studi tersebut menemukan bahwa dibandingkan dengan perempuan yang tidak memiliki anak, seorang ibu menunjukkan tanggapan saraf yang lebih jelas di area otak yang terlibat dalam pemrosesan emosional sebagai respons terhadap teriakan bayi.
Para periset menduga bahwa seorang ibu memahami tangisan bayi sebagai "sinyal penting secara emosional," yang harus mereka respons langsung. Kesamaan respon di berbagai budaya, dan fakta bahwa perubahan otak terdeteksi dalam tiga bulan setelah melahirkan, menunjukkan bahwa ini adalah sistem built-in untuk melindungi manusia yang paling rentan.
Ibu akan merasa lebih nyaman jika mereka tidak tahu pasti mengapa bayi mereka menangis, dan ketika mereka menjemput si bayi dan berbicara dengan mereka, seorang ibu akan melakukan hal-hal yang dilakukan ibu-ibu lain di seluruh dunia.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini