Suara.com - Apakah kamu sering melamun atau bengong dan berandai-andai saat tak ada kegiatan? Nah, sebuah studi mengungkapkan bahwa hal tersebut sebenarnya memiliki manfaat.
Sebuah penelitian mengatakan jaringan otak yang bekerja saat melamun memainkan peran penting dalam memungkinkan kita melakukan tugas rutin secara efisien, tanpa menginvestasikan terlalu banyak waktu dan energi.
Padahal melamun sambil berandai kerap dipandang rendah sebagai tanda kemalasan atau ketidakpedulian, bagaimanapun, penelitian ini dapat mengubah banyak perspektif.
Sebelumnya, para ilmuwan di Washington University School of Medicine telah menemukan bahwa kumpulan daerah otak tampak lebih aktif selama keadaan istirahat seperti ketika seseorang tengah melamun.
Jaringan ini dinamai 'default mode network' (DMN). Sejak saat itu, DMN telah dikaitkan dengan melamun, memikirkan masa lalu, merencanakan masa depan, dan kreativitas, fungsi pastinya tidak jelas.
Dalam penelitian baru yang dipublikasikan dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences, para ilmuwan menunjukkan bahwa DMN memainkan peran penting dalam memungkinkan kita beralih ke 'autopilot'itu ketika kita terbiasa dengan sebuah tugas.
Dalam penelitian tersebut, 28 relawan mengambil bagian dalam sebuah tugas saat berbaring di dalam pemindai magnetic resonance imaging (MRI) dab MRI fungsional (fMRI) untuk mengukur perubahan tingkat oksigen otak sebagai proxy untuk aktivitas syaraf.
Peserta diperlihatkan empat kartu dan diminta mencocokkan kartu target dengan salah satu kartu ini.
Ada tiga aturan yang sesuai dengan warna, bentuk atau nomor. Relawan tidak diberi tahu peraturan, tapi harus menyelesaikannya sendiri karena trial and error.
Selama tahap percobaan, jaringan perhatian dorsal, yang telah dikaitkan dengan proses informasi yang membutuhkan perhatian akan bekerja lebih aktif.
Namun, di tahap aplikasi di mana peserta memanfaatkan aturan belajar dari memori, DMN lebih aktif. Pada tahap ini, semakin kuat hubungan antara aktivitas di DMN dan di daerah otak yang terkait dengan memori, seperti hippocampus, semakin cepat dan lebih akurat relawan mampu melakukan tugasnya.
Ini menunjukkan bahwa selama tahap aplikasi, peserta dapat merespons tugas dengan efisien dengan menggunakan aturan dari memori.
"Alih-alih menunggu secara pasif untuk hal-hal yang terjadi pada kita, kita terus-menerus mencoba untuk memprediksi lingkungan sekitar kita," kata Deniz Vatansever, mantan mahasiswa Universitas Cambridge dilansir Zeenews.
Kondisi tersebut, lanjut dia, seperti sebuah autopilot yang membantu kita membuat keputusan cepat ketika kita tahu apa aturan lingkungan. "Jadi, misalnya, ketika Anda mengemudi untuk bekerja di pagi hari sepanjang rute yang sudah tidak asing lagi, jaringan mode default akan aktif, memungkinkan kami melakukan tugas kami tanpa harus menginvestasikan banyak waktu dan energi ke dalam setiap keputusan," jelas Vatansever, yang sekarang berbasis di Universitas dari York.
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi