Suara.com - Risiko keguguran dan kematian bayi baru lahir ternyata dapat dikurangi dengan melahirkan pada waktu jatuh tempo.
Penelitian baru menunjukkan bahwa induksi sampai usia kehamilan 40 minggu mungkin merupakan pilihan yang lebih aman bagi ibu dan bayi.
Penelitian yang dilakukan oleh PLOS Medicine juga termasuk meneliti ibu yang baru hamil pertama pada usia 35 tahun ke atas.
Usia 35 tahun ke atas adalah kelompok ibu yang umumnya memiliki risiko komplikasi kelahiran yang lebih tinggi. Ini juga merupakan kelompok yang jumlahnya terus tumbuh di Inggris dengan sekitar 14 persen ibu di sana merupakan ibu baru yang berusia 35 tahun ke atas.
Pada 2015, Inggris dan Wales memiliki hampir 40.000 perempuan berusia 35 atau lebih yang melahirkan bayi pertama mereka.
Pedoman medis sendiri merekomendasikan induksi terjadi pada perempuan antara 41 dan 42 minggu masa kehamilan atau satu sampai dua minggu setelah tanggal kelahiran jatuh tempo.
Namun menurut penelitian terbaru, satu dari setiap 526 persalinan perempuan berusia di atas 35 tahun akan lebih baik melahirkan pada tanggal jatuh tempo daripada satu atau dua minggu setelahnya.
Dalam studi terhadap hampir 80.000 perempuan Inggris, tingkat kelahiran mati atau kematian bayi dalam tujuh hari kelahiran adalah delapan dari 10.000 kelahiran ketika induksi dilakukan lebih awal.
Hal tersebut dibandingkan dengan 26 per 10.000 ketika induksi ditunda untuk memungkinkan lebih banyak waktu terjadi secara alami.
Dengan perhitungan peneliti London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan bahwa perubahan kebijakan terhadap induksi pada 40 minggu berpotensi menyelamatkan sekitar 50 nyawa bayi setiap seminggu di Inggris.
"Studi ini merupakan bukti terkuat yang mendorong penawaran induksi sampai 40 minggu dapat mengurangi risiko kelahiran mati pada kelompok usia tertentu, yang kita tahu menghadapi risiko kematian bayi yang baru dilahirkan lebih besar," kata peneliti utama Hannah Knight kepada BBC.
Sebuah studi baru-baru ini dari New England Journal of Medicine menemukan bahwa induksi tidak berpengaruh pada kemungkinan membutuhkan kelahiran sesar pada setiap kasus kehamilan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan