Suara.com - Kental manis sebelumnya digolongkan sebagai produk susu yang mengandung nutrisi. Namun baru-baru ini Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM) sepakat untuk mengeluarkan kental manis dari produk susu.
Mereka menilai kandungan nutrisi di dalam kental manis tidak setara dengan susu. Disampaikan Guru Besar Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Profesor Ali Khomsan, kental manis memang menggunakan susu sebagai bahan dasarnya, namun bukan berarti kental manis dapat disebut susu.
Ia menjelaskan, susu sendiri sebagai produk bernutrisi dikenal sebagai sumber kalsium utama. Dalam segelas susu, rata-rata terkandung 350 miligram kalsium. Prof. Ali menyebut, dalam sehari kebutuhan kalsium seseorang mencapai 800 miligram.
"Jadi kalau minum segelas susu, 40 persen kalsium sudah terpenuhi," ujar dia ketika dihubungi Suara.com, Rabu (4/7/2018)
Sementara pada produk kental manis, kandungan kalsiumnya jauh di bawah susu. Berdasarkan penelusuran Suara.com pada label kemasan beberapa produk kental manis, dalam setiap takaran saji atau setara tiga sendok makan kental manis merek Frisian Flag, baru memenuhi kebutuhan kalsium sebesar 6 persen, atau sekitar 48 gram. Begitu juga dengan kental manis Nestle Carnation yang mengandung 40 miligram kalsium dalam setiap penggunaan tiga sendok makan.
"Sementara kandungan gulanya bisa mencapai 40-50 persen. Jadi SKM tidak bisa dianggap susu, karena gizi yang diutamakan pada susu adalah kalsium," tambah dia.
Nah, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan sumber kalsium lainnya dengan harga terjangkau, maka Prof. Ali menyebut ada banyak bahan makanan yang bisa Anda jajal dibandingkan mengonsumsi kental manis sebagai minuman susu.
"Sarden, ikan teri, sayuran hijau seperti bayam, daun pepaya juga merupakan sumber kalsium. Tapi yang paling baik itu memang berasal dari susu. Makan bayam ada kalsium, tapi daya serap tidak sebaik susu," tambah Prof Ali.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk lebih cerdas dalam mengonsumsi produk makanan dan minuman, serta jangan terlalu mudah tergiur dengan klaim dari pihak industri.
Baca Juga: Jelang IMF, Bandara Ngurah Rai Bangun Tempat Parkir Baru
"Produsen intinya menjual suatu produk. Produk dibutuhkan masyarakat atau tidak, itu tergantung masyarakat. Jadi inilah pentingnya mengedukasi masyarakat agar mereka mengonsumsi produk secara tepat guna dan takaran," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
Terkini
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem
-
Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik
-
Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien
-
Standar Internasional Teruji, JEC Kembali Berjaya di Healthcare Asia Awards
-
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit