Suara.com - Penjarahan yang dilakukan korban gempa Palu dan tsunami Donggala disebut terjadi karena cemas dan paranoid akibat trauma psikologis, apa kata dokter jiwa?
Bencana tsunami dan gempa Palu - Donggala di Sulawesi Barat pekan lalu tak hanya menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan pada infrastruktur. Ada laporan bahwa toko dan minimarket di daerah terdampak gempa dijarah oleh sekelompok oknum tak bertanggung jawab.
Tak hanya bahan makanan yang dijarah, oknum tersebut juga mengambil bahan bakar hingga barang-barang elektronik. Muncul anggapan, penajarahan tersebut terjadi akibat trauma psikologis.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Pusat, dr. Eka Viora Sp.KJ mengatakan bahwa dalam situasi darurat, kepanikan dan kemarahan yang dialami para korban gempa bukanlah tanda trauma psikologis, ataupun gangguan jiwa.
"Jadi jangan dibilang orang di sana sakit jiwa semua atau depresi atau gangguan stres pasca trauma. Ini adalah sebuah reaksi normal pada situasi abnormal. Tingkatnya berbeda-beda dan pemulihannya berbeda-beda tergantung dukungan psikososial yang kita berikan," ujar dr Eka dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Kantor Kementerian Kesehatan, Selasa (2/10/2018).
Eka menambahkan, ketika seseorang kehilangan anggota keluarga dan kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi akibat terjadi bencana, wajar jika reaksi yang ditimbulkan mereka berupa kemarahan. Namun Ia tidak bisa menyebut para korban gempa mengalami gangguan kesehatan jiwa.
Perlu pemantauan hingga enam bulan untuk bisa mendiagnosis korban gempa Palu mengalami depresi atau mengalami gangguan stres pasca trauma.
"Yang diperlukan pada situasi ini dukungan sosial dan psikososial. Jadi bagaimana mereka kita dengarkan. Ada yang menangis, meraung kita dengarkan. Kalau kita intervensi dengan baik maka kesehatan jiwa mereka bisa terus membaik," tambah dia.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si mengatakan bahwa tentu saja selain dukungan psikologis, para korban gempa Palu juga membutuhkan penanganan medis dan pemenuhan kebutuhan dasar. Itu sebabnya dibutuhkan kerjasama lintas sektor sehingga dapat meminimalisir terjadinya trauma psikologis setelah terjadinya bencana.
Baca Juga: Rachel Maryam: Ratna Sarumpaet Trauma dan Ketakutan
"Saat situasi darurat tampaknya bantuan medis dan pemenuhan kebutuhan dasar salah satu utama yang dibutuhkan korban. Barulah pemberian psychological first aid dan stabilisasi emosi diperlukan untuk membuat emosi dan perilaku mereka kembali normal," tandas Gamayanti.
Berita Terkait
-
Luhut Bawa Isu Gempa Palu - Donggala ke Rapat IMF-World Bank
-
Instruksi Khusus Jokowi Soal Penanganan Gempa Palu-Donggala
-
Hari Keempat, Korban Tewas Gempa Palu - Donggala 1.234 Orang
-
Alat Deteksi Tsunami Rusak Sejak 2012, Begini Kata Jokowi
-
Gempa Palu: Lagi, Atlet Paralayang Indonesia Ditemukan Meninggal
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat