Suara.com - Aktivitas sehari-hari yang padat dan kerap melelahkan membuat tubuh dan pikiran menjadi stres, kalau sudah begitu banyak cara dilakukan untuk menghilangkan stres mulai dari hal sederhana seperti mandi air panas, belanja sampai berolahraga.
Tapi tahukah Anda kalau tubuh memiliki cara sendiri untuk melepaskan stres?
Adalah TRE atau Trauma Releasing Exercises, sebuah teknik sederhana melepaskan stres dan ketegangan pada tubuh dengan metode membiarkan tubuh bergetar.
TRE diciptakan oleh Dr David Berceli, Ph D yang sudah puluhan tahun menggunakan TRE untuk menangani korban trauma di Beirut, Tragedi 9/11, badai katrina dan peristiwa lainnya.
Kenapa menggunakan getaran? Kata David, bergetar adalah cara tubuh untuk 'hidup' ketika ia merasa tertahan dan tertekan. Jadi lanjutnya, bergetar sama dengan melepaskan tekanan yang tertahan oleh tubuh.
"Berbeda dengan yoga yang merupakan latihan serius, buatan manusia dan dilakukan secara sadar, ini (TRE) lebih primitif karena tidak perlu kesadaran untuk bisa melakukan TRE," kata David dalam acara "Pelepasan Ketegangan, Stres Akut dan Trauma Melalui Kecerdasan Tubuh", beberapa saat lalu di Jakarta.
TRE bisa dilakukan siapa saja, di mana saja, asal nyaman dan memungkinkan.
Pertama yang harus dilakukan adalah posisi tidur sambil membuka kaki dan menyatukan kedua tumit.
Pertahankan posisi kedua telapak kaki menempel rata dengan lantai, serta lutut menghadap ke atas.
Angkat panggul dari lantai, tahan selama 30 detik atau satu menit. Secara perlahan, anda akan merasakan getaram di area kaki bahkan bisa sampai pinggang dan badan.
Baca Juga: Khusus Pria, 6 Tips untuk Ereksi yang Lebih Lama Saat Bercinta
Sebaiknya tidak mencoba mengontrol badan yang bergetar, biarkan saja. Tapi kalau Anda merasa sudah tak nyaman, segera hentikan dan ambil posisi duduk yang nyaman.
Kata David Berceli, stres dan hari yang tak mengenakkan membuat getaran yang timbul lebih kencang dibandingkan jika sedang berada dalam kondisi normal.
"Bagaimana kita tahu bahwa ini (TRE) bekerja melepaskan stres? Kita akan merasa lelah karena melepaskan kekakuan. Nanti akan ada perasaan lebih hidup dan bersemangat," tambah Founder TRE Indonesia, Hindra Gunawan dalam acara yang sama.
Bagaimana, Anda mau mencoba menghilangkan stres dan fikiran mulai dari hal sederhana seperti menggetarkan tubuh sambil berolahraga.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?