Suara.com - Ini Pentingnya Rutin Cek Berat dan Tinggi Badan Anak.
Masalah anak dengan berat badan kurang hingga kini masih menjadi tantangan di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan satu dari lima anak Indonesia mengalami berat badan kurang.
Jika kondisi ini terjadi pada anak dalam usia tumbuh kembang dan tidak segera diintervensi, maka anak dengan berat badan tidak ideal terancam mengalami gizi kurang, bahkan stunting. Keluarga, khususnya orang tua perlu mencermati kondisi berat dan tinggi badan anak serta memberikan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan setiap tahap usia mereka sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.
Disampaikan DR Dr Conny Tanjung, Sp A(K), walau berat badan kurang adalah kondisi yang serius dan perlu segera ditangani, sayangnya banyak orang tua belum menyadari bahwa tubuh anak yang tampak kurus membutuhkan perhatian dan penanganan yang khusus.
"Status gizi kurang merupakan salah satu permasalahan pertumbuhan yang mengacu pada kondisi berat badan yang ideal menurut tinggi badan. Kondisi ini dapat diakibatkan oleh asupan gizi yang kurang, penyakit kronis, masalah kesulitan makan, praktek pemberian makan yang salah dan ketidaktahuan orangtua," ujar dia dalam temu media di Jakarta, Selasa (29/1/2019).
Ia menambahkan, kondisi berat badan kurang pada balita akan menyebabkan berbagai dampak yang merugikan baik dalam jangka pendek, maupun jangka panjang. Risikonya antara lain penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga rentan terhadap penyakit, anak tidak tumbuh optimal dan cenderung tumbuh pendek, serta gangguan perkembangan otak dan fisik seperti gangguan daya pikir hingga interaksi sosial dan risiko mengidap penyakit degeneratif saat dewasa.
"Orang tua perlu lebih mewaspadai kondisi anak dengan berat badan kurang dan memantau berat badan, serta tinggi badan anak secara cermat. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk memantau berat badan dan tinggi badan anak secara rutin cukup rendah karena nyatanya selama tahun 2018 baru sekitar 54,6 persen anak balita yang dibawa ke fasilitas kesehatan untuk ditimbang dan diukur tingginya," imbuh dr Conny.
Padahal sesuai standar, setidaknya balita harus diukur berat dan tinggi badannya delapan kali dalam setahun sebagai upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan.
Itu sebabnya dr Conny mengimbau, selain mengupayakan pemenuhan nutrisi, orangtua juga harus aktif melakukan pemantauan rutin pertumbuhan anak di layanan kesehatan yang paling mudah dijangkau, untuk memantau status gizi dan mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.
Baca Juga: Haedar: Pernyataan Said Aqil Siradj Jangan Jadi Polemik di Tahun Politik
"Jika berat badan anak sudah terdeteksi berada di bawah kurva pertumbuhan, maka orang tua perlu segera mencari bantuan penanganan yang tepat dari tenaga kesehatan untuk memperbaiki status gizi anak," lanjut dr Conny.
Dalam kesempatan yang sama, Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin mengatakan sebagai bentuk dukungan, Danone Indonesia menyediakan platform website www.cekberatanak.co.id. Website ini diharapkan dapat memudahkan orang tua dalam memantau berat badan ideal si kecil dari mana saja dan kapan saja.
"Dengan rutin mengecek kurva pertumbuhan anak melalui website ini, semoga orang tua dapat lebih siap dan waspada bila terjadi gejala tinggi dan berat badan anak kurang sehingga segera mencari solusi dengan berkonsultasi kepada ahli kesehatan terdekat," tandas Arif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!