Suara.com - Hukuman fisik, seperti memukul, bukan cara yang efektif untuk mendisiplinkan anak. Hal ini sesuai dengan rekomendasi American Psychological Association (APA) dan American Academy of Pediatrics (AAP) yang menyatakan bahwa cara kekerasan tidak efektif untuk mendisiplinkan anak dalam jangka panjang.
Penggunaan hukuman fisik pada anak-anak telah dilakukan secara turun temurun di Amerika Serikat selama 50 tahun terakhir, demikian dikatakan Presiden APA, Rosie Phillips Davis, dalam rilisnya ke media.
"Kami berharap resolusi ini akan membuat lebih banyak orangtua dan pengasuh menyadari bahwa ada bentuk lain untuk mendisiplinkan anak yang lebih efektif, dan bahkan lebih mungkin menghasilkan perilaku yang ingin mereka lihat pada anak-anak mereka," tulisnya.
Pada bulan November tahun lalu, AAP sebenarnya telah mengeluarkan pernyataan kebijakan yang memberitahu orangtua bahwa strategi mendisiplinkan anak tidak harus melibatkan pukulan, atau bentuk lain dari hukuman fisik, atau mempermalukannya secara verbal.
Pernyataan AAP ini mendorong orangtua untuk tidak memukul saat mengajarkan anak mereka tentang kedisplinan.
"Strategi pendisiplinan yang merugikan, termasuk semua bentuk hukuman fisik, berteriak, atau mempermalukan anak-anak, mungkin efektif dalam jangka pendek, namun tidak efektif dalam jangka panjang," demikian pernyataan AAP, mengutip beberapa penelitian yang menghubungkan hukuman fisik dengan hasil negatif untuk anak-anak.
Berbagai studi tentang dampak hukuman fisik telah membuktikan betapa anak-anak tidak mendapat manfaat dari hukuman fisik ini.
Bahkan, satu studi menemukan bahwa anak-anak akan melanjutkan perilaku yang sama setelah mereka dihukum, hanya dalam 10 menit setelah ia mengalami pukulan. Sementara hasil studi lainnya mengaitkan hukuman fisik yang keras skor IQ yang lebih rendah.
Peneliti juga menemukan bahwa memukul anak-anak membuat orangtua menciptakan siklus negatif dalam hubungan mereka.
Baca Juga: Korban Incest, Perempuan Difabel Ini Sudah 120 Kali Disetubuhi Kakaknya
Semua penelitian menunjukkan hasil yang bertentangan dengan apa yang orang tua inginkan ketika mencoba mendisiplinkan anak-anak mereka.
Tapi kini, para ahli melihat generasi orangtua saat ini lebih kecil kemungkinannya untuk memukul daripada generasi sebelumnya, dan berharap tren penguatan dan empati positif terus berlanjut.
Mereka juga melihat bahwa banyak orangtua saat ini lebih jarang menggunakan kekuatan fisik, kata-kata yang mempermalukan, dan penghinaan pada anak-anak mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic