Suara.com - Di seluruh dunia, hukuman fisik selama ini dianggap sebagai cara terbaik untuk mendisiplinkan anak. Beragam hukuman fisik yang kerap diberikan orangtua antara lain menjewer kuping, mencubit, hingga memukul pantat anak.
American Academy of Pediatrics (AAP) mengatakan bahwa memukul tidak hanya gagal dalam membuat anak jadi disiplin, tapi justru membuatnya lebih agresif dan berani melawan orangtua ketika dewasa.
"Tidak ada gunanya memukul. Kami tahu bahwa anak-anak yang tumbuh dan berkembang dengan pengasuhan yang positif bisa memiliki kedisiplinan juga," ujar Dr. Robert Sege dari Tufts Medical Center di Boston.
Ketika mengintervensi anak-anak yang terluka secara fisik karena hukuman yang diterimanya, Robert dan tim juga menemukan risiko peningkatan gangguan mental di antara anak-anak tersebut. Bahkan, ia percaya bahwa orangtua yang sering menggunakan hukuman fisik dalam mengasuh anak-anaknya juga memiliki gangguan mental.
Tak hanya pada orangtua yang sudah berusia lanjut, Robert menemukan bahwa perilaku memukul pantat anak juga sering terjadi pada orangtua dengan tingkat pendapatan dan pendidikan yang lebih rendah.
"Kami pikir ada pergeseran generasi di mana orangtua saat ini jauh lebih kecil kemungkinannya untuk memukul anak-anak mereka daripada orangtua mereka dulu," tambah Robert.
Dibandingkan memukul anak atau menggunakan hukuman fisik lainnya, Robert lebih merekomendasikan orangtua untuk menerapkan pola asuh positif sehingga anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang positif pula.
Selain menghindari pemberian hukuman fisik, para ahli juga mengingatkan agar orangtua juga tidak menggunakan hukuman verbal seperti mengeluarkan kata-kata sumpah serapah atau mempermalukan anak di depan umum. Cara ini hanya merusak hubungan antara orangtua dan anak, tak hanya saat kecil tapi berdampak selamanya.
"Kami sangat menyarankan orangtua untuk membangun hubungan yang positif, mendukung, dan penuh cinta dengan anak mereka. Tanpa dasar ini, anak Anda tidak memiliki alasan selain ketakutan untuk menunjukkan perilaku yang baik," tandas dia.
Baca Juga: Kekurangan Mineral Ini Diduga Tingkatkan Risiko Autisme pada Anak
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic