Suara.com - Tren Nama Anak Pesohor, Makin Populer Makin Dibenci.
Sebuah studi yang dilakukan Channel Mum mengungkap bahwa satu dari tujuh orangtua mengaku telah melakukan kesalahan pemberian nama anak mereka.
Studi tersebut dilakukan terhadap 2000 orangtua di Eropa, hasilnya, satu dari lima orangtua mengaku malah tak menyukai nama anak mereka saat nama tersebut populer.
Bahkan satu dari 10 orangtua mengaku kesal saat tokoh selebriti atau pesohor memilih nama yang sama seperti nama anaknya.
Dikatakan juga, satu dari tiga orangtua telah memilih nama yang orisinil dan unik, dan merasa luar biasa kecewa ketika tahu bahwa ada lusinan orangtua memberi nama yang sama.
Untuk memperbaikinya, sampai-sampai 1 dari 20 responden memilih memanggil anak mereka dengan nama panggilan yang jauh berbeda dengan nama yang terdaftar di catatan resmi.
Bahkan 14 persen responden berpikir untuk mengubah nama anak mereka secara legal.
Pakar nama anak, SJ Strum, yang melakukan penelitian tersebut mengatakan ada beberapa nama anak yang masuk daftar hitam, karena digunakan oleh pesohor ternama. Di antaranya Bear, nama anak pasangan Cheryl dan Liam Payne, serta Harper, nama anak perempuan David dan Victoria Beckham.
Nama putra pasangan pesepak bola Wayne Rooney dan Coleen, Kai, serta Shiloh, nama putri pasangan Brad Pitt dan Angelina Jolie, Shiloh, juga masuk ke daftar tersebut.
Baca Juga: Prediksi Nama Anak Perempuan Meghan Markle Versi Netizen, Siapa Saja?
Selain itu ada juga nama anak Kourtney Kardashian, Penelope dan Mason, serta semua anak Kate Middleton dan Pangeran William, Charlotte, Louis dan George.
Kata Strum, orangtua dengan cepat kehilangan minat dalam memberi nama bayinya setelah digunakan selebritis seperti dilansir dari News.
Karena dalam studi juga menyebutkan bahwa ibu hamil tidak ingin nama anaknya berhubungan dengan pesohor.
Akibatnya, banyak orangtua menghindari nama-nama seperti Rihanna, Donald (Trump), Kourtney, Cheryl (Cole), Miley, Kylie (Jenner) dan Zayn.
Tren selebriti atau pesohor artinya ada daftar nama anak yang terus bertambah untuk dipilih, tetapi ini juga berarti ada lebih banyak peluang untuk memilih nama yang Anda, atau anak Anda akan benci.
Unik juga tren di Eropa ini, orangtua malah tak mau nama anaknya sama dengan nama anak pesohor, makin populer malah makin dibenci.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?