Suara.com - Selama ini para ibu rumah tangga seringkali mengasosiasikan berbagai kegiatan rumah tangga seperti menyapu, mengepel hingga beberes rumah sebagai bagian dari olahraga. Hal ini kerap menjadi alasan bagi mereka untuk tidak menggerakkan tubuh lagi lewat olahraga.
Nah, bagaimana ya menurut penjelasan pakar? dr Andhika Raspati dari PPDS Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang sering membagikan konten-konten menarik mengenai olahraga di akun Instagram pribadinya, @dhika.dr pun memberikan penjelasannya.
Menurut dia, segala aktivitas yang melibatkan kontraksi otot untuk bergerak bisa disebut aktivitas fisik. Tapi aktivitas fisik dibagi ke dalam tiga tingkatan.
Pertama, kata dr Andhika, adalah Non-Exercise Physical Activity (NEPA). Segala pergerakan yang kita lakukan sehari-hari termasuk ngepel, nyapu maupun ngaduk semen dapat digolongkan ke dalam NEPA.
"NEPA dapat meningkatkan 'pembakaran' kalori harian, tapi daya ungkit kebugarannya masih kalah sama level di atasnya, yaitu exercise," ujar dr Andhika dalam unggahannya di Instagram pada Jumat (14/6/2019).
Kedua adalah exercise atau latihan fisik. Pada tingkat ini, kata dr Andhika, hal yang membedakan dengan NEPA adanya penetapan struktur yakni pemanasan-inti-pendinginan, ukuran meliputi intensitas dan volume, serta terprogram atau rutin dilakukan.
"Contohnya lari selama 45 menit sebanyak 4-5 kali seminggu. Sebelom lari ada warm up dulu, pas lari pace-nya diatur, beresnya cool down. Gitu maksudnya terstruktur, terukur, terprogram," imbuhnya.
Tingkatan ketiga barulah olahraga. Ciri tingkat ini adalah memiliki peraturan, poin atau skoring, dan bisa ada menang atau kalah. Tingkat ini menurutnya paling berisiko. Oleh karena itu, sebelum berolahraga tubuh harus sudah cukup bugar untuk melakukannya.
"Contoh akibat ketidaksiapan tubuh untuk berolahraga adalah kematian mendadak saat bermain futsal. Atau yang lebih simpel, cedera gara-gara otot yang masih lemah, tapi sudah gaya-gayaan," tambah dia.
Baca Juga: Video Olahraga Unik Sedang Tren di Rusia, Tampar Bokong Wanita
Dari ketiga tingkat tersebut, tingkat yang ditekankan adalah latihan fisik, terutama untuk masyarakat umum. Selain karena lebih efektif untuk meningkatkan kebugaran dibanding NEPA, dari sisi medis risikonya lebih rendah jika dibandingkan dengan olahraga, karena intensitasnya dapat diatur, dimonitor, dan dijaga selama latihan berlangsung.
Jadi, ngepel atau nyapu belum bisa disebut olahraga ya!
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan