Suara.com - Pemerintah Australia mendesak warganya untuk segera melakukan vaksin flu di tengah maraknya kasus influenza di sana.
Pemerintah sampai harus membuat narasi hubungan antara influenza dengan risiko terkena serangan jantung.
Menurut badan Koalisi Imunisasi, musim flu tahun ini telah menyebabkan 228 ribu kasus orang sakit dengan 486 orang diantaranya meninggal dunia. Tak disangkal, ini merupakan salah satu kasus musim flu paling buruk dalam sejarah Australia, demikian seperti dilansir dari News.
Untuk itu, Koalisi Imunisasi mengimbau warga Australia untuk segera mendapatkan vaksin flu dengan mengatakan bahwa vaksin flu dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung sampai 45 persen.
Secara teknis, respon imun tubuh terhadap virus influenza terjadi karena pelepasan senyawa kimia yang disebut sitokin. Sitosin ini yang meningkatkan risiko pembekuan darah dan dapat menyumbat arteri koroner dan membatasi suplai darah ke jantung serta dapat menyebabkan detak jantung menjadi cepat atau tidak teratur.
Lewat penelitian lain juga terungkap bahwa seseorang enam kali lebih mungkin mengalami serangan jantung seminggu setelah terserang flu.
Tim Tan dari departemen kardiologi Rumah Sakit Blacktown juga mengatakan orang yang belum pernah disuntik vaksin flu berisiko dua kali lipat lebih mungkin terkena serangan jantung dibandingkan dengan mereka yang telah divaksinasi.
Associate Professor mengatakan orang berisiko seperti mereka yang menderita penyakit kardiovaskular, asma, penyakit paru obstruktif kronik atau diabetes, harus mendapatkan vaksinasi.
"Kekhawatiran utama kami adalah tingkat vaksinasi flu pada usia di bawah 65-an yang tetap sangat rendah yaitu hanya 30 persen. Penting untuk bertindak sekarang. Belum terlalu terlambat," demikian dikatakan Tan.
Baca Juga: 5 Manfaat Berenang untuk Kesehatan, Bisa Cegah Penyakit Jantung
Bill Stavreski dari Heart Foundation mengatakan gejala serangan jantung - mual, kedinginan, sakit dan berkeringat - dapat disalahartikan dengan tanda-tanda influenza, dan begitu juga sebaliknya.
"Gejala-gejala ini, terutama pada kelompok berisiko, tidak boleh dianggap enteng - terutama di mana ada riwayat penyakit kardiovaskular," katanya.
Jadi, begitu ada tanda-tanda di atas, segera berobat ke dokter, ya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal