3. Obat oral
Obat oral untuk jerawat juga disebut perawatan sistemik, karena akan diserap ke seluruh tubuh Anda. Obat oral biasanya hanya tersedia dengan resep dari dokter. Obat-obatan ini biasanya digunakan untuk mengobati jerawat yang sedang hingga parah, yang tidak merespons obat topikal.
Tiga jenis obat sistemik yang digunakan untuk mengobati jerawat meliputi:
- Antibiotik
Pil antibiotik harian, seperti tetrasiklin, dapat membantu melawan bakteri dan infeksi dari dalam ke luar. Antibiotik biasanya digunakan bersamaan dengan obat topikal ketika gel dan krim saja tidak mampu memperbaiki kondisi jerawat Anda.
- Pil KB
Mengatur kadar hormon dapat membantu mengatasi jerawat pada sebagian wanita. Namun, Anda sebaiknya tidak menggunakan pil KB selama kehamilan. Jika Anda hamil, tanyakan kepada dokter apa yang dapat Anda lakukan untuk menghilangkan jerawat.
- Isotretinoin
Isotretinoin adalah obat kuat dalam keluarga retinoid yang berfungsi mengurangi ukuran kelenjar minyak sehingga minyak yang dihasilkan jadi lebih sedikit. Ini juga membantu mengatur pergantian sel kulit sehingga sel-sel mati tidak menghalangi pelepasan bakteri dan minyak berlebih dari pori-pori Anda. Isotretinoin biasanya diberikan kepada orang dengan jerawat kistik yang parah. Dokter mungkin akan meresepkannya ketika obat jerawat lain sudah tidak mempan. Namun, efek sampingnya bisa parah, sehingga obat jenis ini tidak untuk semua orang.
Pada obat oral, efek samping potensialnya bisa lebih serius. Antibiotik dapat membuat Anda sakit perut atau membuat Anda pusing. Jika Anda juga minum pil KB, gunakan metode kontrasepsi cadangan. Beberapa antibiotik mengurangi seberapa baik pil KB melindungi Anda dari kehamilan.
Jika Anda menggunakan pil KB untuk mengatasi jerawat, ketahuilah bahwa efek samping kontrasepsi oral termasuk peningkatan risiko pembekuan darah dan tekanan darah tinggi.
Isotretinoin oral juga dapat menyebabkan efek samping yang parah, terutama jika Anda hamil saat meminumnya. Cacat lahir yang parah telah dilaporkan pada bayi yang ibunya mengonsumsi isotretinoin selama kehamilan. Obat ini juga dapat meningkatkan risiko depresi dan pikiran untuk bunuh diri, serta memengaruhi kadar kolesterol dan fungsi hati Anda.
Baca Juga: Cara Singkat Usir Jerawat dengan Treatment Kombinasi
4. Prosedur medis
Meskipun tidak diresepkan sebagai obat biasa, beberapa prosedur medis dapat digunakan untuk mengobati jerawat yang parah. Semua prosedur ini biasanya dapat dilakukan oleh dokter spesialis kulit. Tapi berita buruknya, prosedur medis ini seringkali tidak dapat dicover oleh perusahaan asuransi kesehatan.
Ini dia beberapa prosedur medis yang bisa dilakukan untuk mengatasi jerawat:
- Drainase dan ekstraksi
Selama drainase dan ekstraksi, dokter secara manual akan mengeringkan kista besar yang terbentuk di bawah kulit Anda. Dokter akan menghilangkan cairan, kotoran, nanah, dan kulit mati di dalam kista untuk mengurangi infeksi dan rasa sakit. Dokter dapat menyuntikkan antibiotik atau steroid ke dalam kista untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi risiko jaringan parut.
- Terapi laser
Terapi laser juga dapat membantu mengatasi infeksi jerawat. Sinar laser membantu mengurangi jumlah bakteri pada kulit Anda yang menyebabkan jerawat.
- Pengelupasan kimia dan mikrodermabrasi
Pengelupasan kimia dan mikrodermabrasi akan menghilangkan lapisan atas kulit Anda. Dalam prosesnya, komedo dan jerawat juga akan dihilangkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat