Suara.com - Apakah Anda pernah merasa sangat lapar setelah berpikir keras? Otak memang bertanggung jawab atas penyerapan energi yang sangat besar ini.
Ketika tubuh dalam keadaan diam dan tidak beraktivitas, otak menghabiskan 20% hingga 25% dari keseluruhan energi tubuh, terutama dalam bentuk glukosa. Itu berarti rata-rata 350 atau 450 kalori per hari untuk wanita dan pria.
Selama masa kanak-kanak, otak bahkan lebih rakus. "Dalam usia rata-rata 5-6 tahun, otak dapat menggunakan lebih dari 60% energi tubuh," kata Doug Boyer, seorang profesor antropologi evolusi dari Duke University seperti dikutip dari Live Science.
Kebiasaan mengacaukan glukosa ini sebenarnya menjadikan otak organ yang paling menghabiskan energi dalam tubun. Namun secara keseluruhan hanya menyumbang 2% dari berat tubuh.
"Jika Anda memiliki otak yang sangat besar relatif terhadap ukuran tubuh Anda, maka itu mungkin akan lebih mahal secara metabolisme," kata Boyer.
Selain itu, otak tidak pernah benar-benar beristirahat. Ia menjelaskan ketika kita tidur, otak masih membutuhkan bahan bakar untuk terus mengeluarkan sinyal antar sel untuk menjaga fungsi tubuh kita.
Nah, sel-sel tersebut membutuhkan bagian dari glukosa tubuh untuk bertahan hidup dan terus melakukan pekerjaan mereka, yakni menyalurkan makanan ke neuron.
Apakah itu berarti semakin banyak kita menggunakan otak maka semakin banyak membakar kalori ?
Jawabannya adalah "ya", untuk tugas yang sulit secara kognitif. Apa yang dianggap sebagai tugas sulit tersebut bervariasi di antara individu. Tetapi secara umum, hal itu dapat digambarkan sebagai sesuatu yang otak tidak dapat menyelesaikan dengan mudah menggunakan rutinitas yang telah dipelajari sebelumnya, atau tugas yang mengubah kondisi secara terus-menerus.
Baca Juga: Gambar Apa yang Dilihat? Tes Ini Ungkap Cara Anda Berpikir
Kegiatan semacam itu mungkin termasuk belajar memainkan alat musik atau merencanakan gerakan inovatif selama permainan catur yang intens.
"Ketika Anda berlatih untuk mempelajari sesuatu yang baru, otak Anda beradaptasi untuk meningkatkan transfer energi di daerah (otak)," kata menurut Claude Messier, seorang profesor psikologi dan ilmu saraf di University of Ottawa di Kanada.
Seiring waktu, ketika kita menjadi lebih terampil dalam melakukan tugas tertentu, otak tidak lagi harus bekerja keras untuk menyelesaikannya. Dengan melakukan tugas itu pada akhirnya akan membutuhkan lebih sedikit energi, Messier menjelaskan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Tak Cuma Gizi, Anak Juga Butuh Stimulasi Belajar agar Tumbuh Cerdas dan Tangguh
-
Viral Obat Keras Dijual Bebas di Minimarket Tanpa Konsultasi Apoteker Layaknya Apotek
-
Anak Sering Main Gadget? Periksa Mata Rutin Jadi Kunci Cegah Gangguan Penglihatan sejak Dini
-
Tuba Falopi Istri Diangkat, Program IVF Wujudkan Mimpi Aktor Rifky Alhabsyi Punya Anak
-
Waspada Penyakit Virus Ebola: Kenali Gejala Awal dan Langkah Pencegahannya
-
Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus