- Perusahaan farmasi global kini mengembangkan terapi GLP-1 dalam bentuk pil untuk mempermudah pengobatan diabetes dan obesitas.
- Kehadiran obat oral di Amerika Serikat secara signifikan meningkatkan jumlah pasien baru yang enggan menggunakan suntikan.
- Kemudahan penggunaan obat oral terbukti meningkatkan akses pasien sekaligus mendorong pertumbuhan investasi industri kesehatan secara drastis.
Suara.com - Pengobatan diabetes dan obesitas kini mulai memasuki babak baru. Jika sebelumnya terapi berbasis GLP-1 identik dengan suntikan mingguan, kini kehadiran versi oral atau pil dinilai membuat lebih banyak orang tertarik menjalani pengobatan.
Tren ini mulai terlihat di Amerika Serikat setelah sejumlah terapi GLP-1 oral diluncurkan ke pasar. Penyedia layanan kesehatan digital dan telemedisin mencatat lonjakan pasien baru hanya dalam waktu singkat, terutama dari kelompok yang sebelumnya enggan mencoba terapi suntik.
CEO layanan telemedisin LifeMD, Justin Schreiber, mengatakan jumlah pasien baru di platform mereka meningkat tajam setelah terapi GLP-1 oral tersedia.
“Kami mengalami peningkatan jumlah pasien baru dari 300 hingga 400 pasien per hari menjadi 600 hingga 1.000 pasien per hari,” ujarnya seperti dikutip CNBC.
Menurutnya, banyak pasien sebenarnya tertarik mengontrol berat badan maupun gula darah, tetapi masih merasa takut terhadap jarum suntik atau menganggap terapi suntik terlalu merepotkan. Kehadiran obat oral membuat hambatan itu berkurang.
“Tidak diragukan lagi bahwa peluncuran obat oral telah meningkatkan akses,” kata Schreiber.
GLP-1 sendiri merupakan terapi yang banyak digunakan untuk membantu mengontrol kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2 sekaligus membantu mengurangi nafsu makan. Dalam beberapa tahun terakhir, terapi ini juga populer dalam penanganan obesitas.
Melihat besarnya potensi pasar ini, raksasa farmasi global seperti Novo Nordisk terus berinovasi mengembangkan formula oral agar zat aktif GLP-1 dapat diserap optimal oleh tubuh hanya lewat sistem pencernaan. Langkah ini menjadi jawaban atas tantangan terapi suntikan yang selama ini dianggap menyulitkan bagi sebagian pasien. Selain faktor kenyamanan, akses terhadap terapi suntik memang kerap dinilai lebih rumit dan mahal.
Karena itu, kehadiran pil dinilai berpotensi memperluas pasar pengobatan diabetes dan obesitas secara drastis. Banyak pasien yang sebelumnya menunda terapi kini mulai lebih terbuka untuk berobat karena bentuknya lebih praktis dan terasa familiar seperti konsumsi obat biasa.
Baca Juga: Cegah Diabetes hingga Hipertensi, Pemerintah Siapkan Label Khusus di Makanan
Fenomena ini juga menunjukkan adanya perubahan perilaku pasien dalam memilih terapi kesehatan. Kemudahan penggunaan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kepatuhan pengobatan, terutama untuk kondisi kronis seperti diabetes dan obesitas yang membutuhkan terapi jangka panjang.
Di sisi industri kesehatan, meningkatnya minat terhadap terapi oral juga mendorong perusahaan farmasi global memperbesar investasi produksi untuk memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh.
Analis menilai tren obat oral berbasis GLP-1 masih akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan berat badan dan gula darah sejak dini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?