Suara.com - Setelah hadir selama 5 tahun di Indonesia, harus diakui bahwa akses masyarakat Indonesia ke Badan Penyelenggaran Jaminan Sosisl (BPJS) Kesehatan semakin meningkat.
Hal ini diungkap lembaga riset The SMERU Research Institute yang menyebut bahwa kepersertaan BPJS meningkat hingga 200 juta penduduk di tahun 2019. Sedangkan dulu pada 2014, jumlah peserta hanya sebesar 5 persen dari total penduduk, dan itupun sebagian besar merupakan aparatur sipil negara atau ASN.
"Kita mulai 2015 sampai 2019 kepesertaannya meningkat jauh, (sekarang) lebih dari 200 juta penduduk. Kalau sekarang 83 persen dari seluruh penduduk. Dulu hanya cover pegawai negeri, penduduk miskin pakai Jamkesmas, itu saya rasa di bawah 5 persen yang dapat iuran Jamkesmas dan Jamkesda. Dan dari 5 tahun meningkat sangat jauh," jelas Widjajanti Isdijoso, M.Ec.St, Direktur The SMURE di Kemenkes RI, Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (21/11/2019).
Meski begitu, angka kepesertaan 83 persen masih perlu banyak pembenahan, khususnya dalam hal kepatuhan anggota membayar iuran yang sudah ditetapkan. Meski tersedia subsidi selama 1 tahun dan bantuan swadaya secara online, masih juga tidak menutupi defisitnya anggaran.
"Tentang kepesertaan sekitar 83 persen, peserta kelas atas masih sangat rendah. Kami telah melihat susbsidi bantuan selama 1 tahun dan bantuan secara online, tapi hal tersebut masih belum cukup membantu. Kepatuhan membayar mungkin masih menjadi tugas kami," tuturnya.
Isu seputar kepesertaan BPJS Kesehatan ini pun dibahas dalam ajang Asia Pacific Future Trends Forum (FTF) ke-12, forum tahunan yang berisi para pemangku kepentingan dari negara-negara Asia Pasifik. Dalam forum ini, didiskusikan pula perkembangan dan tantangan seputar sistem kesehatan yang dihadapi negara.
"Forum ini merupakan diskusi pertukaran pikiran tentang isu-isu universal dengan memanfaatkan basis data. Pelayanan kesehatan bukan hanya JKN dan BPJS saja," terang Widjajanti.
Acara Asia Pacific FTF Ke-12 ini diselenggarakan selama 2 hari di Jakarta, dan Kementerian Kesehatan didapuk sebagai tuan rumah, dengan fokus pembahasan seputar Health Financing dan Pemanfaatan Big Data dan Digital. Hari pertama pertemuan diisi dengan diskusi para ahli, sementara hari kedua adalah forum kebijakan tingkat tinggi.
Mengusung tema Roadmap to National Health Insurance: Acceleration Through Public Private Partnership. Selain Indonesia, pembicara hadir juga dari Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Vietnam, Taiwan, dan Thailand.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
Isi Proposal OJK dan BEI ke MSCI: Janji Ungkap Penerima Manfaat Akhir Saham RI
-
MSCI Buka Suara Usai Diskusi dengan BEI, OJK dan KSEI Perihal IHSG
-
IHSG 'Kebakaran' di Awal Februari, Menkeu Purbaya: Ada Faktor Ketidakpastian!
-
Pupuk Indonesia Pugar Pabrik Tua, Mentan Amran Bilang Begini
-
Setiap Hari Taruhkan Nyawa, Pelajar di Lampung Timur Menyeberang Sungai Pakai Getek
Terkini
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit
-
Super Flu: Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
-
3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan