Suara.com - Fenomena alam gerhana matahari cincin hari ini, 26 Desember 2019, dapat dinikmati oleh sebagian masyarakat Indonesia di beberapa wilayah tertentu. Hal ini tentu saja disambut antusias oleh banyak orang. Tapi, tentu saja tak semudah itu mengamati gerhana matahari secara langsung. Banyak ahli dan pakar kesehatan yang telah memperingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengamati fenomena alam ini.
Gejala Solar Retinopathy
Melihat gerhana matahari, baik secara langsung ataupun tidak langsung, sangatlah berbahaya bagi mata. Diperlukan media perantara berfilter khusus untuk mengamatinya. Jika pesan ini tak dipatuhi, hal ini dapat menyebabkan kondisi yang disebut solar retinopathy, yaitu kerusakan mata akibat radiasi matahari.
Dilansir dari N Vision Centers, kondisi solar retinopathy umumnya tidak langsung bergejala. Tapi setelah 4-6 jam (beberapa gejala ada yang baru muncul setelah 12 jam), barulah akan muncul gejala berupa rasa tidak nyaman pada mata saat menatap cahaya terang, sakit mata, mata berair, dan sakit kepala.
Dalam kondisi yang lebih serius, solar retinopathy dapat menyebabkan pandangan kabur atau berbayang, menurunkan kemampuan melihat warna dan bentuk, munculnya bintik hitam di tengah mata, dan yang paling parah adalah kerusakan mata permanen.
Pencegahan Solar Retinopathy
Solat retinopathy terjadi akibat terlalu banyak sinar ultraviolet (UV) yang masuk ke retina dan akhirnya merusak mata. Saat masuk ke mata, sinar UV akan difokuskan oleh lensa dan diserap oleh retina yang berada di belakang mata. Sinar UV kemduian akan menghasilkan radikal bebas yang mulai mengoksidasi jaringan di sekitar mata, dan membuat sel batang dan sel kerucut pada retina akan rusak.
Beberapa orang berpikir bahwa sunglasses atau kacamata hitam dapat melindungi mereka dari ancaman solar retinopathy. Padahal ini salah besar. Bahkan kacamata hitam terbaik sekalipun, sangat jarang yang mampu menjamin keamanan mata seratus persen saat menatap gerhana matahari. Anda disarankan menggunakan kacamata yang menggunakan filter khusus yang dapat meredam intensitas cahaya matahari.
Cara melihat gerhana matahari juga perlu diperhatikan. Hindari menatap matahari terus-menerus. Sesekali, alihkan pandangan Anda beberapa saat sebelum menatapnya lagi. Saat gerhana matahari mencapai puncaknya, yaitu ketika matahari tertutup total dan langit menjadi gelap, Anda boleh melepas kacamata atau pelindung. Tapi, gerhana matahari total hanya terjadi beberapa detik. Setelah itu, Anda harus kembali menggunakan pelindung mata.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Kesehatan Mata, Ini 4 Tips Jaga Kebersihan Soflens
Cara Mengatasi Solar Retinopathy
Tidak ada pengobatan untuk kondisi solar retinopathy. Tetapi, tetap saja Anda harus menemui dokter mata untuk mengatasi gejala yang dirasakan setelah menatap gerhana matahari. Banyak orang akan pulih dari solar retinopathy dalam waktu tiga hingga enam bulan.
Ada juga rumor yang menyebut bahwa solar retinopathy dapat menimbulkan kebutaan. Meski tidak seekstrem itu, namun menurut penjelasan dari LiveScience, kerusakan retina yang sangat parah akibat melihat gerhana matahari, dapat membuat Anda kesulitan melihat detail-detail kecil, misalnya tulisan pada koran, spot hitam, atau tekstur benda.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol